Senin, 12 Januari 2015

SEJARAH ADIPATI ARYA BLITAR DI KADIPATEN BLITAR



ABSTRAK: Sejak zaman pemerintahan kerajaan Singhasari, Majapahit, hingga Kadipaten Blitar, Blitar telah menjadi sebuah tempat yang sangat berperan penting dalam bidang politik kerajaan. Banyak bukti-bukti sejarah dari kerajaan Singhasari yang dibangun di Blitar. Bukti-bukti tersebut menyebar di berbagai tempat di kabupaten Blitar. Pada zaman dulu (namun masih bertahan hingga sekarang), daerah Blitar merupakan daerah lintasan antara Dhoho (Kediri) dengan Tumapel (Malang) yang paling cepat dan mudah. Di sinilah peranan penting yang dimiliki Blitar, yaitu daerah yang menguasai jalur transportasi antara dua daerah yang saling bersaing (Panjalu dan Jenggala serta Dhoho dan Singosari). Meski di Blitar sendiri sebenarnya tidak pernah berdiri sebuah pemerintahan kerajaan. Akan tetapi, keberadaan belasan prasasti dan candi menunjukkan Blitar memiliki posisi geopolitik yang penting. Kendati kerajaan di sekitar Blitar lahir dan runtuh silih berganti, Blitar selalu menjadi kawasan penting. Tidak mengherankan jika di Blitar terdapat setidaknya 12 buah candi. Pada masa “kepemimpinan” Djoko Kandung, atau Adipati Aryo Blitar III, pada sekitar tahun 1723 dan di bawah Kerajaan Kartasura Hadiningrat, pimpinan Raja Amangkurat , Blitar pun jatuh ke tangan penjajah Belanda. Karena, Raja Amangkurat menghadiahkan Blitar sebagai daerah kekuasaannya kepada Belanda yang dianggap telah berjasa karena membantu Amangkurat dalam perang saudara termasuk perang dengan Aryo Blitar III, yang berupaya merebut kekuasaannya. Blitar pun kemudian beralih kedalam genggaman kekuasaan Belanda, yang sekaligus mengakhiri eksistensi Kadipaten Blitar sebagai daerah pradikan.

Kata kunci: sejarah, adipati, Blitar

Dahulu Bangsa Tartar dari asia timur sempat menguasai tanah Blitar, yang kala itu belum bernama Blitar. Majapahit sebagai penguasa nusantara merasa perlu untuk merebutnya. Kerajaan adidaya itu mengutus Niluswara untuk memukul mundur Bangsa Tartar.Keberuntungan berpihak pada Niluswara. ia dapat memaksa mundur pendudukan bangsa dari Mongolia itu. Atas  jasanya, ia akhirnya dianugerahi gelar Adipati Aryo Blitar I dan memimpin Blitar. Ia menamakan tanah yang berhasil ia bebaskan dengan nama Balitar yang berarti kembalinya bangsa Tartar. Namun pada perkembangannya, terjadi konflik antara Aryo Blitar I dengan Ki Sengguruh Kinareja seorang patih Kadipaten Blitar.Namun keberuntungan kini beralih. Aryo Blitar I lengser dan Sengguruh meraih tahta dengan gelar Adipati Aryo Blitar II. Pemberontakan kembali terjadi. Aryo Blitar II dipaksa turun oleh Djoko Kandung yang merupakan anak dari Aryo Blitar I. Djoko Kandung adalah anak hasil perkawinan antara Aryo Blitar I dengan Dewi Rayung Wulan.



 
 ¹ Universitas Negeri Malang, Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar.
Kepemimpinan Djoko Kandung dihentikan oleh kedatangan bangsa Belanda di bumi pertiwi.Sebenarnya rakyat Blitar yang multi etnis saat itu telah melakukan perlawanan. Tapi, perlawanan itu diredam oleh Belanda dengan membuat peraturan baru.
Cerita diatas menggambarkan bahwa wilayah Blitar mempunyai peranan penting pada masa kerajaan Singhasari hingga Majapahit. Blitar menyimpan cerita sejarah yang banyak dan belum kita ketahui. Diantaranya yaitu sejarah kehidupan Blitar pada masa kepemimpinan Adipati Arya Blitar. Dalam artikel ini akan membahas tentang sejarah adipati Arya Blitar pada masa itu. Dengan berbagai referensi yang ada, artikel ini akan menjabarkan secara luas bagaimana keadaan Blitar pada masa kepemimpinan Adipati Arya Blitar.

KEADAAN BLITAR PADA MASA KERAJAAN SINGHASARI
Dari raja-raja Singhasari, Kertanegaralah yang paling diketahui riwayatnya, dan pemerintahan Kertanegara pula yang paling banyak peristiwanya. Dalam bidang keagamaan ia sangat menonjol dan sangat dikenal sebagai seorang penganut agama Budha Tantrayana. Dia mengangkat seorang dharmadyaksa ri kasogatan (kepala agama Budha).
      Pada awal pemerintahannya ia berhasil memadamkan pemberontakan Kalanaya Bhaya (Cayaraja). Dalam pemberontakan itu Kalanaya Bhaya mati terbunuh. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1270. Dalam ilmu politiknya, Kertanegara mencita-citakan kekuasaan yang meliputi daerah-daerah disekitar Singhasari sampai seluas mungkin. Sehingga demi cita-citanya itu, ia menyingkirkan tokoh-tokoh yang mungkin menentang atau menjadi penghalang. Mula-mula ia membunuh patihnya sendiri yang bernama Kebo Arema atau Raganata, ia ganti dengan Kebo Tengah atau Aragani. Raganata dijadikan Adhyaksa di Tumapel. Kemudian seorang yang kurang dipercaya karena terlalu dekat kepada Kadiri, bernama Banak Wide, dijauhkan dengan pengangkatan menjadi bupati di Sumenep (Madura) dengan gelar Aryawiraraja. Pada tahun 1275, Kertanegara mengembangkan sayapnya ke Sumatera Tengah. Pengiriman pasukan kesana yang terkenal dengan nama Pamalayu, berlangsung sampai tahun 1292 (Soekmono, 1973: 64).
      Tindakan Raja Kertanegara untuk meluaskan kekuasaanya ke luar Jawa itu rupa-rupanya didorong oleh ancaman dari Cina. Dimana pada tahun 1260 berkuasa kaisar Shih-tsu Khubilaikhan yang pada tahun 1260 mendirikan dinasti Yuan. Khubilai Khan segera memulai dengan minta pengakuan kekuasaan dari Negara-negara yang sebelumnya mengakui kekuasaan raja-raja Cina dari Dinasti Sung Jawa juga tudak luput dari incaran. Utusan Khubilai Khan mulai datang pada tahun 1280 dan 1281, menuntut supaya ada seorang pangeran yang dikirim ke Cina sebagai tanda tunduk kepada kekaisaran Yuan. Ancaman itulah yang mengubah pandangan raja Kertanegara yang semula hanya diarahkan ke lingkungan pulau Jawa saja, maka menjadi sampai keluar pulau Jawa (Soejono,1993:414).
      Banyak orang desa yang ribut, takut karena kedatangan tentara Daha di kerajaan Singhasari. Banyak diantara orang desa yang luka parah karena melawan tentara musuh. Sementara itu, banyak pula yang lari mengungsi. Tabuh titir dibunyikan isyarat bahwa ada bahaya. Justru itulah yang direncanakan oleh tentara Kadiri. Utusan dari Mameling datang menghadap raja Kertanegara untuk memberitahukan bahwa tentara Kadiri telah tiba di Mameling. Namun, sang prabu tidak percaya. Para pengungsi dari daerah utara terus mengalir masuk kota Singhasari. Ada yang menangis, ada yang luka parah, ada pula yang harus digendong. Melihat mereka itu, barulah raja Kertanegara percaya akan kebenaran tentang kedatangan tentara musuh. Segera Raden Wijaya dipanggil dan diperintahkan berangkat menuju Mameling, memimpin tentara Singhasari. Tipu muslihat raja Jayakatwang berhasil menurut rencana. Tentara Singhasari berhasil dipancing musuh. Setelah Raden Wijaya berangkat dengan tentaranya, segera raja Kertanegara memerintahkan Kyai Patih Kebo Anenga untuk menyusul ke Mameling, karena ia khawatir kalau-kalau Raden Wijaya kewalahan melawan tantara musuh. Adhyaksa Raganata dan mantra Angabhaya Wirakreti memperingatkan sang prabu bahwa tindakan itu kurang bijaksana. Dengan berangkatnya Patih Kebo Anenga, kota Singhasari tidak terjaga. Bahaya mudah mengancam kota Singhasari. Sementara itu, Kertanegara tinggal di pura, mengenyam kenikmatan hidup, seolah-olah tidak ada bahaya mengancam, dihadap oleh patih Angragani. Bala tentara Kadiri telah masuk pura Singhasari dari selatan melalui Lawor terus menuju ke Sidabawana, dibawah pimpinan Kebo Mundrang. Raganata dan Wirakreti tergopoh-gopoh memberi tahu sang prabu bahwa tentara musuh telah datang.
     Raja Kertanegara beserta Panji Angragani, Mpu Raganata dan mantra Angabaya Wirakreti gugur dalam perlawanan gigih terhadap tentara Kadiri, yang datang menyerbu Pura Singhasari. Mendengar sorak sorai tentara musuh di Manguntur, Mahisa Anengah yang diperintahkan menyusul Raden Wijaya ke jurusan utara segera membalik, kembali menuju Pura Singasari, dengan maksud untuk menyelamatkan Prabu Kertanegara. Namun telah terlambat. Perlawanan gigih terhadap tentara musuh tidak berhasil. Mahisa Anengah beserta tentaranya gugur juga dalam pertempuran. Masa kejayaan Kertanegara, raja Singasari terakhir, berakhir tragis dan menyedihkan. Jayakatwang dan pemberontak itu, berhasil mencapai tujuannya dengan cara keji (Suyono, 2003: 9-10).

KEADAAN BLITAR PADA MASA KERAJAAN MAJAPAHIT
     Blitarlah yang mengawasi lalu-lintas ini hingga Blitar mendapatkan kedudukan yang boleh dikata istimewa. Ini dapat dilihat dari adanya banyak prasasti dan bangunan suci di Blitar yang hampir semua memberikan hadiah bebas pajak kepada desa-desa. Desa-desa ini disebut Sima. Walaupun bebas pajak namun, Sima ini dibebani tugas istimewa yang berhubungan dengan banungunan suci atau dengan raja berdasarkan atas pertimbangan ekonomis (Soekmono, 1973). Nampaknya raja-raja sejak Balitung sampai jatuhnya kerajaan Majapahit, berkepentingan di daerah Blitar ini. Bahkan Raja terbesar Majapahit Hayam Wuruk, selama pemerintahanya tidak kurang dari tiga kali mengelilingi Blitar. Bahwa seorang raja yang berstatus prabu (maharaja) seperti Hayam Wuruk itu sampai berkali-kali pergi ke Blitar.  Maka arti penting Blitar tidak dapat begitu saja diabaikan.
      Di dalam Kitab Nagarakertagama Pupuh I : 4-5 pada tahun 1334 M Gunung Kampud (Gunung Kelud sekarang) meletus, dengan kilat dan guntur bersambungan di udara, hujan abu serta gempa bumi yang sebenarnya pertanda kelahiran seorang bayi sebagai Putra Mahkota Hayam Wuruk (Slamet Mulyana; 1979). Biasanya masa lalu, apabila ada kelahiran seorang anak (putra mahkota) yang lahir ke dunia kemudian “disertai alam berontak” (seperti gempa bumi, air bah dan sebagainya). Itu akan menjadi seorang raja yang adigdaya (memiliki kekuatan supranatural tinggi).
      Pada tahun 1350 M, putra mahkota Hayam Wuruk dinobatkan menjadi raja Majapahit. Ia bergelar Sri Rajasanagara, dan dikenal pula dengan nama Bhra Hyang Wekasing Sukha. Ketika ibunya Tribhuwanatunggadewi masih memerintah, Hayam Wuruk telah dinobatkan menjadi raja muda dan mendapat daerah Jiwana sebagai daerah lungguhnya. Dalam menjalankan pemerintahannya Hayam Wuruk didampingi oleh Gajah Mada yang menduduki jabatan Patih Hamangkubhumi. Jabatan ini sebenarnya sudah diperoleh ketika ia mengabdi kepada raja Tribhuwanattunggadewi, yaitu setelah ia berhasil menumpas pemberontakan di sadeng. Dengan bantuan Patih Hamangkubhumi Gajah Mada, raja Hayam Wuruk berhasil membawa kerajaan Majapahit ke puncak kejayaannya. Seperti halnya raja Kertanegara yang mempunyai gagasan politik perluasan cakrawala mandala yang meliputi seluruh Dwipantara, Gajah Mada ingin melaksanakan pula gagasan politik nusantaranya yang telah dicetuskan sebagai Sumpah Palapa di hadapan raja Tribhuwanattunggadewi dan para pembesar kerajaan Majapahit. Dalam rangka menjalankan politik nusantaranya itu satu demi satu daerah-daerah yang belum bernaung di bawah panji kekuasaan Majapahit ditundukkan dan dipersatukannya. Dari pemberitaan Prapanca di dalam Kakawin Nagarakertagama dapat diketahui bahwa daerah-daerah yang ada di bawah kekuasaan Majapahit itu sangat luas. Politik Nusantara ini berakhir sampai tahun 1357 M, dengan terjadinya peristiwa di Bubat, yaitu perang antara orang Sunda dan Majapahit. Kitab Pararaton masih menyebutkan pula adanya ekspedisi ke Dempo dalam th 1357 M, yang bersamaan dengan terjadinya peristiwa di Bubad (Drs. Haris Daryono Ali Haji, SH, MM, 2009: 54).
     Dari kitab Pararaton kita mengetahui, bahwa setelah peristiwa bubat berakhir kemudian Gajah Mada Mukti Palapa, mengundurkan diri dari dari jabatannya. Beberapa waktu kemudian ia aktif kembali dalam pemerintahan, tetapi tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai program politik Nusantaranya setelah peristiwa Bubat. Di dalam Kakawin Nagarakertagama, disebutkan bahwa raja Hayam Wuruk pernah menganugerahkan sebuah Sima kepada Gajah Mada, yang kemudian diberi nama Darma Kasogatama Madakaripura. Pada waktu Hayam Wuruk mengadakan perjalanan ke Lumajang, ia singgah di Sima Darma Kasogatama Madakaripura dan menempati pesanggrahannya. Sima Madakaripura ini agaknya kemudian berkembang menjadi desa sima yang cukup pada abad XVI (Slamet Muljana, 1979:139)
      Pada tahun 1316 dan 1317 Kerajaan Majapahit carut marut karena terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Kuti dan Sengkuni. Kondisi itu memaksa Raja Jayanegara untuk menyelamatkan diri ke desa Bedander dengan pengawalan pasukan Bhayangkara dibawah pimpinan Gajah Mada. Berkat siasat Gajah Mada, Jayanegara berhasil kembali naik tahta dengan selamat. Adapun Kuti dan Sengkuni berhasil diringkus dan kemudian dihukum mati. Oleh karena sambutan hangat dan perlindungan ketat yang diberikan penduduk Desa Bedander, maka Jayanegara pun memberikan hadiah berupa prasasti kepada para penduduk desa tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa pemberian prasasti ini merupakan peristiwa penting karena menjadikan Blitar sebagai daerah swatantra di bawah naungan Kerajaan Majapahit. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada hari Minggu Pahing bulan Srawana tahun Saka 1246 atau 5 Agustus 1324 Masehi, sesuai dengan tanggal yang tercantum pada prasasti. Tanggal itulah yang akhirnya diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Blitar setiap tahunnya (http://blitarian.com/content/view/70/43//).

SEJARAH ADIPATI ARYA BLITAR PADA MASA KADIPATEN BLITAR
      Seperti diketahui, menurut sejumlah buku sejarah, terutama buku Bale Latar, Blitar didirikan pada sekitar abad ke-15. Nilasuwarna atau Gusti Sudomo, anak dari Adipati Wilatika Tuban, adalah orang kepercayaan Kerajaan Majapahit, yang diyakini sebagai tokoh yang mbabat alas. Sesuai dengan sejarahnya, Blitar dahulu adalah hamparan hutan yang masih belum terjamah manusia. Nilasuwarna, ketika itu, mengemban tugas dari Majapahit untuk menumpas pasukan Tartar yang bersembunyi di dalam hutan selatan (Blitar dan sekitarnya). Sebab, bala tentara Tartar itu telah melakukan sejumlah pemberontakan yang dapat mengancam eksistensi Kerajaan Majapahit. Singkat cerita, Nilasuwarna pun telah berhasil menunaikan tugasnya dengan baik Bala pasukan Tartar yang bersembunyi di hutan selatan, dapat dikalahkan.
      Sebagai imbalan atas jasa-jasanya, oleh Majapahit, Nilasuwarna diberikan hadiah untuk mengelola hutan selatan, yakni medan perang yang dipergunakannya melawan bala tentara Tartar yang telah berhasil dia taklukkan. Lebih daripada itu, Nilasuwarna kemudian juga dianugerahi gelar Adipati Ariyo Blitar I dengan daerah kekuasaan di hutan selatan. Kawasan hutan selatan inilah , yang dalam perjalanannya kemudian dinamakan oleh Adipati Ariyo Blitar I sebagai Balitar (Bali Tartar). Nama tersebut adalah sebagai tanda atau pangenget untuk mengenang keberhasilannya menaklukkan hutan tersebut. Sejak itu, Adipati Ariyo Blitar I mulai menjalankan kepemimpinan di bawah Kerajaan Majapahit dengan baik. Dia menikah dengan Gutri atau Dewi Rayung Wulan, dan dianugerahi anak Djoko Kandung. Namun, di tengah perjalanan kepemimpinan Ariyo Blitar I , terjadi sebuah pemberontakan yang dilakukan oleh Ki Sengguruh Kinareja, yang tidak lain adalah Patih Kadipaten Blitar sendiri. Ki Sengguruh pun berhasil merebut kekuasaan dari tangan Adipati Ariyo Blitar I, yang dalam pertempuran dengan Sengguruh dikabarkan tewas. Selanjutnya Sengguruh memimpin Kadipaten Blitar dengan gelar Adipati Ariyo Blitar II. Selain itu, dia juga bermaksud menikahi Dewi Rayungwulan. Mengetahui bahwa ayah kandungnya (Adipati Ariyo Blitar I) dibunuh oleh Sengguruh atau Adipati Ariyo Blitar II maka Djoko Kandung pun membuat perhitungan. Dia kemudian melaksanakan pemberontakan atas Ariyo Blitar II, dan berhasil. Djoko Kandung kemudian dianugerahi gelar Adipati Ariyo Blitar III. Namun sayangnya dalam sejarah tercatat bahwa Joko Kandung tidak pernah mau menerima tahta itu, kendati secara de facto dia tetap memimpin warga Kadipaten Blitar.
      Pada masa “kepemimpinan” Djoko Kandung, atau Adipati Ariyo Blitar III, pada sekitar tahun 1723 dan di bawah Kerajaan Kartasura Hadiningrat, pimpinan Raja Amangkurat , Blitar pun jatuh ke tangan penjajah Belanda. Karena, Raja Amangkurat menhadiahkan Blitar sebagai daerah kekuasaannya kepada Belanda yang dianggap telah berjasa karena membantu Amangkurat dalam perang saudara termasuk perang dengan Ariyo Blitar III, yang berupaya merebut kekuasaannya.Blitar pun kemudian beralih kedalam genggaman kekuasaan Belanda, yang sekaligus mengakhiri eksistensi Kadipaten Blitar sebagai daerah pradikan(http://www.trucuriwindows.net/trucurivideo/video/2v-3Ff9V0tk/Makam-Arya-Blitar-Penguasa-Pertama-Kadipaten-Blitar.html).
KESIMPULAN

·      Blitar mempunyai kedudukan yang sangat penting sejak masa kerajaan Majapahit hingga kepemerintahan Adipati Arya Blitar. Sebagai imbalan atas jasa-jasanya, oleh Majapahit, Nilasuwarna diberikan hadiah untuk mengelola hutan selatan, yakni medan perang yang dipergunakannya melawan bala tentara Tartar yang telah berhasil dia taklukkan. Lebih daripada itu, Nilasuwarna kemudian juga dianugerahi gelar Adipati Ariyo Blitar I dengan daerah kekuasaan di hutan selatan. Kawasan hutan selatan inilah , yang dalam perjalanannya kemudian dinamakan oleh Adipati Ariyo Blitar I sebagai Balitar (Bali Tartar).
·      Di tengah perjalanan kepemimpinan Ariyo Blitar I , terjadi sebuah pemberontakan yang dilakukan oleh Ki Sengguruh Kinareja, yang tidak lain adalah Patih Kadipaten Blitar sendiri. Ki Sengguruh pun berhasil merebut kekuasaan dari tangan Adipati Ariyo Blitar.
·      Pada masa “kepemimpinan” Djoko Kandung, atau Adipati Ariyo Blitar III, pada sekitar tahun 1723 dan di bawah Kerajaan Kartasura Hadiningrat, pimpinan Raja Amangkurat , Blitar pun jatuh ke tangan penjajah Belanda.


DAFTAR RUJUKAN

Drs. Ali Haji, Haris Daryono. 2006. Dari Majapahit Menuju Pondok Pesantren. Yogyakarta: Bagaskara

Muljana, Slamet. 2005. Menuju Puncak Kemegahan. Yogyakarta: LkiS

Muljana, Slamet. 1979. Nagara Kretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhatara Karya Aksara

Soekmono. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid 2. Yogyakarta: Kanisius

Soekmono.1993. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 2. Jakarta: Balai Pustaka

Suyono. 2003. Peperangan Kerajaan di Nusantara. Jakarta: Grasindo


http://blitarian.com/content/view/70/43//: diakses pada tanggal 31 Mei 2011 pada jam 10.00 WIB .


PENGARUH PERISTIWA RENGGASDENGKLOK PADA 16 AGUSTUS 1945 TERHADAP KEMERDEKAAN INDONESIA



1.   Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
               Masa pendudukan Jepang di Indonesia berlangsung selama 3,5 tahun, namun dampaknya bagi bangsa Indonesia meliputi berbagai bidang, diantaranya bidang politik,ekonomi,sosial,budaya,birokrasi, dan militer. Memasuki awal tahun 1944, tentara Jepang mulai mengalami kekalahan diberbagai daerah, karena para pemuda telah memiliki keahlian dan keterampilan militer yang dapat dimanfaatkan dikemudian hari pada saat mempertahankan kemerdekaan menghadapi tentara Sekutu dan Belanda.
 Hingga akhirnya Proklamasi kemerdekaan dibacakan, itu  menunjukan keberanian bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri. Namun, proklamasi itu tidak berlangsung lancar begitu saja.Proklamasi itu lahir dari perbedaan sikap yang jelas antara kalangan yang menginginkan Kemerdekaan Indonesia sebagai hasil perjuangan sendiri dan kalangan yang tidak mempersoalkan kemerdekaan itu merupakan pemberian Jepang. Pada tanggal 7 Agustus 1945, Panglima Asia Tenggara Jenderal Terauchi menyetujui pembentukan Dokuritsu Junbi Inkai atau  Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia(PPKI). Dua hari kemudian, Soekarno dan Hatta, bersama dengan Rajiman Widiodiningrat, diundang ke Dalath. Pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 bom atom dijatuhkan armada udara Sekutu masing-masing di Hiroshima dan Nagasaki.  Peristiwa tersebut mendorong Terauchi mengubah tanggal pemberian Kemerdekaan menjadi 24 Agustus 1945.
Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepadaa Sekutu.Meskipun dirahasiakan, berita kekalahan itu dapat diketahui sejumlah tokoh gerakan bawah tanah dan para pemuda melalui radio.Kekalahan Jepang itu menimbulkan keinginan kuat dan keberanian untuk memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia sesegera mungkin.Hal itulah yang mendasari terjadinya peristiwa Rengasdengklok.Dengan kepastian tanggal tersebutketiga tokoh tadi kembali ke Indonesia.
Makalah ini membahas peristiwa Rengasdengklok karena pada peristiwa ini merupakan puncak dari tujuan bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan.Perjuangan bangsa Indonesia pada Peristiwa Rengasdengklok sangat besar.Jadi, penulis mengambil topik mengenai Peristiwa Rengasdengklok guna menumbuhkan semangat Nasionalisme dan Patriotisme bagi generasi penerus bangsa Indonesia di era modernisasi saat ini.

1.2 Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang di atas makalah ini memiliki rumusan masalah sebagai berikut.
1)   Mengapa tiga tokoh Indonesia dipanggil ke Dalath?
2)  Bagaimana Peristiwa Rengasdengklok terjadi?
 3)  bagaimanakah pengaruh setelah Peristiwa Rengasdengklok?

1.3 Tujuan Masalah
            Berdasarkan rumusan masalah di atas makalah ini mempunyai tujuan masalah sebagai berikut.
1)   Mengetahui dan mengerti alasan pemanggilan tiga tokoh Indonesia ke Dalath.
 2)  Memahami terjadinya Peristiwa Rengasdengklok.
 3)  Mengetahui pengaruh yang terjadi setelah Peristiwa Rengasdengklok.

2.   Pembahasan
2.1 Peristiwa Pemanggilan Tiga Tokoh Indonesia Ke Dalath
            Jepang yang semakin mendesak dalam perang Asia Pasifik oleh pihak Sekutu, menyadari bahwa mereka akan mengalami kekalahan. Oleh karena itu, Jepang mula-mula  memberikan janji kemerdekaan kepada Bangsa Indonesia. Kemudian dibentuklah Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Junbi Cosakai. Pada tanggal 7 Agustus 1945 diumumkan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan (PPKI), maka pada saat yang sama Dokuritsu Junbi Cosakai dianggap bubar. Kepada para anggota PPKI, Guseikan Mayor Jenderal Yamato mengucapkan terimakasihnya dan menegaskan kepada mereka bahwa para anggota yang duduk dalam PPKI itu tidak dipilih oleh pejabat dilingkungan Tentara Keenambelas saja, akan tetapi oleh Jenderal Besar Terauci sendiri yang menjadi penguasa perang tertinggi di seluruh Asia Tenggara.
Pada tanggal 9 Agustus 1945 tiga orang tokoh Inonesia dipanggil ke Dalath (Vietnam) oleh Jenderal Besar Terauci.Ketiga tokoh Indonesia yang dipanggil adalah Ir.Soekarno, Drs.Moh.Hatta dan dr.Radjiman Wedyodiningrat (Thamiend,2000: 168). Dalam pertemuan di Dalath pada tanggal 12 Agustus 1945 Jenderal Besar Terauci menyampaikan kepada ketiga pemimpin tersebut, bahwa keputusan pemerintah kekaisaran Jepang untuk memberikan kemerdekaan kepada Bangsa Indonesia yang wilayahnya meliputi seluruh bekas Hindia Belanda. Dengan demikian, pertemuan di Dalath merupakan momentum politik yang besar artinya kearah pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang telah dicita-citakan selama berabad-abad.
            Dua puluh satu anggota telah dipilih, tidak hanya terbatas pada wakil-wakil dari Jawa yang ada di bawah pemerintahan Tentara Keenambelas, tetapi juga dari berbagai pulau, seperti berikut : 12 wakil dari Jawa, 3 wakil dari Sumatra, 2 dari Sulawesi, seorang dari Kalimantan, seorang dari Sunda Kecil(Nusa Tenggara), seorang dari Maluku, dan seorang dari golongan penduduk Cina. Yang ditunjuk  sebagai ketua dalam PPKI adalah Ir. Soekarno, wakilnya Drs. Moh. Hatta dan sebagai penasehat ditunjuk Mr. Subardjo.Kemudian oleh orang Indonesia sendiri, anggota PPKI ditambah dengan enam orang lagi tanpa seizin pihak Jepang. Anggota-anggota itu adalah Wiranata Kusuma, Ki Hajar Dewantara, Mr. Kasman Singodimedjo, Sajuti Melik, Iwa Kusumasumantri dan Ahmad Subardjo(Notosantoso,1984:78). Dan pada saat ketiga tokoh PPKI, yakni Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan dr. Radjiman Wedyodiningrat kembali ke Indonesia dan tiba pada tanggal 15 Agustus 1945 belum mengetahui sedikitpun bahwa sebenarnya Jepang telah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, sehubungan dengan dijatuhkannya bom atom di Hirosima dan Nagasaki pada tanggal 6 an 9 Agustus 1945.
            Berita mengenai kekalahan Jepang diketahui oleh sebagian pemimpin golongan pemuda.Oleh karena itu, setibanya di Jakarta Soekarno dan Hatta langsung didesak oleh para pemuda agar keduanya segera memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Keinginan para pemuda itu ditanggapi oleh kedua tokoh dengan mengatakan bahwa masalah Proklamasi Kemerdekaan akan dibicarakan pada rapat PPKI yang akan dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus 1945. Pendapat kedua tokoh tersebut tidak disetujui oleh para pemuda, sehingga terjadi peristiwa Rengasdengklok.


2.2 Peristiwa Rengasdengklok
            Pada malam hari tanggal 15 Agustus 1945, para pemuda mengadakan rapat di ruang Laboratorium Mikrobiologi di Pegangsaan Timur. Rapat ini dihadiri oleh tokoh radikal, antara lain Chaerul Saleh, Soekarni, Yusuf Kunto, Soerachmat, Djohan Noer, Darwis, Abdoer ahcman, Moewardi, Sempoen Singgih, Hamani, dan Wikana. Rapat tersebut dipimpin oleh Chaerul Saleh yang mengambil keputusan untuk mendesak Soekarno dan Hatta agar mau memutuskan hubungannya dengan pemerintahan militer Jepang dan bersedia berunding dengan para pemuda. Rapat ini dilakukan karena terjadi perbedaan pendapat antara kalangan tua dan kalangan muda terhadap kapan dilaksanakannya Proklamasi Kemerdekaan.
1) Sikap Kalangan Tua
Pihak yang disebut kalangan tua adalah para anggota PPKI.Tokoh yang menonjol dalam kelompok ini aalah Soekarno dan Moh.Hatta.mengenai tanggal Proklamasi Kemerdekaan, kalangan tua cenderung menyesuaikan iri dengan ketentuan Pemerintah Militer Jepang, yakni tanggal 24 Agustus 1945. Mereka tidak berani melanggar ketentuan itu karena khawatir akan adanya pertumpahan darah . Kalangan tua beranggapan bahwa cepat atau lambat Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan bukan masalah yang penting, tetapi masalah yang penting adalah Proklamasi Kemerdekaan harus dipersiapkan secara matang dan bagaimana cara menghadapi pasukan sekutu yang akan datang nanti. Untuk itu, segala sesuatu yang menyangkut Proklamasi Kemerdekaan harus dibicarakan dalam rapat PPKI.Sehingga dengan demikian tidak menyimpang dengan ketentuan Jepang, yang menetapkan waktu pelaksanaan Proklamasi Keerdekaan.

2)Sikap Kalangan Muda
Pihak yang disebut kalangan muda adalah para mahasiswa dan anggota PETA.Mereka memiliki sikap radikal mengenai Proklamasi Kemerdekaan.Mereka tidak menyetujui jika pelaksanaan Proklamasi Kemerekaan sesuai dengan keputusan Jenderal Besar Tarauci.Kalangan muda beranggapan bahwa kalangan tua terlalu mengikuti ketentuan Jepang. Dengan terlalu mengikuti ketentuan Jepang, Kemerdekaan Indonesia menjadi tanpa makna karena sama dengan pemberian Jepang. Mereka menghendaki terlaksananya Proklamasi Kemerdekaan dengan kekuatan sendiri tanpa mengindahkan Jepang. Dengan begitu akan menimbulkan kesan bahwa Kemerdekaan Indonesia merupakan hasil perjuangan rakyat Indonesia sendiri.
Sutan Syahrir termasuk tokoh pertama yang mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia tanpa menunggu janji Jepang yang dianggap tipu muslihat belaka. Karena ia mendengar radio yang tidak disegel Pemerintah Jepang, maka ia mengetahui bahwa Jepang sudah memutuskan menyerah(Notosusanto,1984:79-80).
Pada tanggal 15 Agustus 1945, malam hari kalangan pemuda mengutus Darwis dan Wikana untuk menyampaikan kemauan kalangan pemuda kepada Soekarno dan Hatta.Kedua pemimpin itu tetap tegas pada pendiriannya yaitu membicarakan terlebih dahulu Proklamasi Kemerdekaan dengan PPKI.Pada pembicaan tersebut tidak mencapai kata sepakat, kalangan pemuda bermaksud mengamankan Soekarno dan Hatta keluar Jakarta(Matroji,2004:4).
Adanya perbedaan paham itu telah mendorong kalangan pemuda untuk membawa Soekarno dan Hatta keluar Kota. Tindakan tersebut diambil dari hasil keputusan rapat terakhir pada pukul 00.30 WIB menjelang tanggal 16 Agustus 1945 yang diadakan oleh para pemuda bertempat di Asrama Baperpi(Badan Permusyawaratan Pemuda Indonesia), Cikini 71, Jakarta. Selain peserta rapat di Lembaga Bakteriologi, rapat itu juga dihadiri oleh Soekarni, Yusuf Kunto, dr.Muwardi  dan Shodanco Singgih dari Daidan PETA Jakartasyu. Rapat tersebut memutuskan untuk mengamankan Soekarno dan Hatta keluar Kota Jakarta dengan tujuan untuk menjauhkan mereka dari segala pengaruh Jepang.Untuk menghindari kecurigaan Jepang Shodanco Singgih mendapat kepercayaan untuk melaksanakan rencana tersebut.
Pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30 Soekarno dan Hatta dibawa oleh sekelompok pemuda keluar kota menuju Rengasdengklok, sebuah kota kawedanan disebelah timur Jakarta.Rengasdengklok dipilih untuk tempat pengamanan Soekarno dan Hatta atas berbagai pertimbangan sebagai berikut.
1)   Rengasdengklok dilatarbelakangi oleh laut sehingga mudah untuk meloloskan diri apabila ada serangan dari pihak Jepang.
2)   Sebelah timur dearah Rengasdengklok dibentengi oleh Purwakarta dan Cimalaya yang barada dibawah penguasaan satu Daidan PETA yang siap menghadapi setiap kemungkinan berasal dari timur.
3)   Sebelah selatan ada juga tentara PETA Kedung Gedeh.
4)    Sebelah barat ada juga tentara PETA di Bekasi yang siap menghadapi musuh yang mencoba menyerang dari arah Jakarta(Thamiend,2000:169).
Sehari penuh Soekarno dan Hatta berada di Rengasdengklok .Disana kalangan pemuda kembali mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan tanpa kaitan apapun dengan Jepang.Kedua pemimpin itu tetap teguh pada pendirian semula.Wibawa mereka cukup kuat sehingga kalangan pemuda segan untuk melakukan penekanan.Namun, dalam suatu pembicaraan pribadi dengan Soekarno, Shoudanco Singgih menyimpulkan bahwa Soekarno bersedia memproklamasikan kemerdekaan segera setelah kembali ke Jakarta.Kemudian Singgih bergegas ke Jakarta untuk menyampaikan kesediaan Soekarno memproklamasikan kemerdekaan kepada kalangan pemuda yang ada di Jakarta.
Sementara itu di Jakarta, antara Ahmad Subardjo sebagai wakil kalangan tua dan Wikana sebagai wakil kalangan muda telah mencapai kesepakatan bahwa Proklamasi Kemerdekaan dilaksanakan di Jakarta.Dimana Laksamana Maeda bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya.Atas dasar kesepakatan itu, Ahmad Subardjo berangkat ke Rengasengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta. Setibanya di Rengasdengklok, Ahmad Subardjo meyakinkan Soekarno dan Hatta bahwa Jepang memang telah menyerah. kemudian ia meyakinkan kalangan pemuda untuk melepaskan Soekarno dan Hatta dengan jaminan bahwa Ahmad Subardjo member taruhan nyawanya jika Proklamasi Kemerdekaan tidak dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945 selambat-lambatnya sampai pukul 12.00 WIB. Setelah yakin dengan jaminan tersebut Shodanco Subeno,dari Daidan PETA Rengasdengklok bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta.

2.3 Perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan
            Soekarno dan Hatta tiba di Jakarta pukul 23.30 WIB.Soekarno dan Hatta beserta rombongan menuju rumah Laksamana Maeda di jalan Imam Bonjol (sekarang Perpustakaan Nasional Depdikbud).Di rumah itulah naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia disusun (Notosusanto,1984:83).
Perumusan teks Proklamasi didahului oleh perubahan sikap mendasar dari Soekarno dan Hatta mengenai  Proklamasi Kemerdekaan. Awalnya mereka akan melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan sesuai dengan ketetapan Jepang. Sikap itu berubah setelah pertemuan dengan pemuka militer Jepang di Jakarta.
1)   Pertemuan dengan Mayjen Nishimura.
   Soekarno dan Hatta menemui Somabuco (kepala Pemerintahan umum) Mayor Jenderal Nishimura untuk mengetahui sikapnya mengenai rapat PPKI yang membicarakan tentang Kemerdekaan Indonesia (Matroji, 2004 : 6).
Dalam pertemuan itu tidak mengasilkan kata sepakat.Disatu pihak Soekarno dan Hatta bersikeras melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan sesuai dengan garis kebijakan Jendral Terauchi.Dilain pihak, Nishimura bersikeras memelihara status quo.
Berdasarkan garis kebijaksanaan itu Nishimura melarang kegiatan dalam bentuk apapun termasuk mengadakan rapat PPKI dalam rangka pelaksanaan ProklamasiKemerdekaan.Tidak adanya kesepahaman itu meyakinkan Soekarno dan Hatta untuk melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan tanpa ada kaitannya dengan Jepang.
2)   Perumusan Konsep Proklamasi Kemerdekaan
   Setelah bertemu Sumabuco, Soekarno dan Hatta bergegas ke kediamanLaksamana Maeda.Disana telah berkumpul para anggota PPKI dan kalangan Pemuda.Kemudian terjadilah peristiwa bersejarah berupa Perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan.Tokoh-tokoh yang merumuskan teks Proklamasi Kemerdekaan adalah Soekarno,Hatta dan Ahmad Subardjo yang disaksikan oleh pihak kalangan pemuda yaitu Soekarno, B.M. Diah dan Soediro.Teks tersebut dirumuskan diruang makan Laksamana Maeda. Sebagai tuan rumah beliau mengundurkan diri kekamar tidurnya ketika peristiwa bersejarah itu berlangsung, sedangkan anggota PPKI dan Pemuda lainya berada diserambi depan.
Soekarno kemudian mengambil secarik kertas dan menulis sesuai dengan apa yang Hatta dan Ahmad Subardjo ucapkan. Ahamad Subardjo menyumbangkan pikirannya yaitu “Kami rakyat Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan kami’’.Kalimat pendek dan sederhana ini telah dianggap cukup bagi suatu langkah yang menentukan dan mempunyai arti penting dalam sejarah dunia yang mencerminkan keadaan yang dihadapkan kepada bangsa Indonesia.Suatu  keadaan yang dikuasai oleh ketegangan jiwa yang luar biasa ( Frederick, 2005 : 306-307 ).Kalimat pendek tersebut kemudian dilanjutkan oleh Hatta.   
Konsep Proklamasi Kemerdekaan itu terdiri atas dua kalimat.
(1)Kalimat Pertama merupkan pernyataan kemauan Bangsa Indonesia untuk menentukan hasilnya sendiri.
(2)Kalimat kedua merupakan pernyataan mengenai pengalihan kekuasaan (transfer of sovereignity).
       Perumusan teks Proklamasi berlansung hingga pukul 04.00 WIB dengan menghasilkan teks proklmasi hasil tulisan tangan Ir Soekarno. Ketiga tokoh perumus teks, kemudian menjumpai tokoh-tokoh PPKI dan kalangan pemuda yang menunggu diserambi depan. Kemudian Soekarno membuka rapat lalu membacakan konsep proklamasi kemerdekaan.Konsep itu disetujui dengan sedikit perubahan.
3)   Pengesahan Teks Proklamasi
Dalam pengesahan teks proklamasi terjadi perdebatan mengenai siapa yang menandatangani teks proklamasi.Soekarno mengusulkan agar mereka yang hadir bersma-sama teks proklamasi.Saran tersebut diperkuat oleh Hatta.Seperti halnya naskah “Declaration of Independence” Amerika Serikat.Tetapi usulan itu ditentang oleh kalangan pemuda karena mereka masih menganggap bahwa kalangan tua sebagai kolaborator (orang yang bekerjasama dengan Jepang) apabila turut menandatangani teks proklamasi.
Dari perdebatan yang terjadi salah seorang tokoh pemuda, yakni Sukarni mengusulkan supaya yang menandatangani teks proklamasi cukup dua orang saja yaitu Soekarno dan Hatta, Atas Nama Bangsa Indonesia.Hal ini dimaksudkan agar proklamasi kemerdekaan benar-benar bersih dari pengaruh jepang.Usulan itu berdasarkan alsan kedua tokoh yang telah diakui sebagai pemimpin utama rakyat Indonesia dan usulannya disetujui.
Kemudian Sayuti melik segera mengetik teks proklamasi yang ditulis Soekarno dengan perubahan kecil.Perubahan itu mencakup tiga hal, sebagai berikut :
(1)               Tulisan “tempoh” diganti ‘tempo”
(2)               Tulisan “wakil-wakil bangsa Indonesia” diganti “atas nama bangsa Indonesia”
(3)               Tulisan Djakarta, “17-08-‘05’ diganti menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen ‘05”.
Baru pada jam 2.00 malam tanggal 16 menjelang tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta teks proklamasi kemerdekaan siap dan di tandatangani oleh dwitunggal Bung Karno-Hatta disaksikan pemuda-pemuda (Kansilh,1985:44).
Demikian pertemuan yang menghasilkan teks proklamasi kemerdekaan itu berlangsung pada tanggal 17 Agustus 1945 dini hari.Timbulah persoalan bagaimana teks tersebut disebarluaskan keseluruh Indonesia. Sukarni melaporkan bahwa lapangan Ikada (lapangan sudut tenggara Monas) telah dipersiapkan bagi berkumpulnya masyarakat Jakarta untuk mendengar pembacaan teks proklamasi, tetapi Soekarno menganggap lapangan Ikada adalah salah satu lapangan umum yang bisa manimbulkan bentrok antara rakyat dengan pihak militer Jepang. Oleh karna itu Soekarno mengusulkan supaya upacara proklamasi dilakukan di rumahnya di Jl. Pegangsaan Timur  No. 56,Jakarta (sekarang gedung perintis kemerdekaan di jalan proklamasi). Usul itu disetujui dan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia berlangsung di tempat itu pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB ditengah-tengah bulan puasa (Notosusanto, 1984: 86-87).

3.    Penutup
3.1     Kesimpulan

1)                 Tiga tokoh Indonesia yaitu Ir. Soekarno, Hatta dan dr. Radjiman Widiodiningrat dipanggil ke Dalat,Vietnam oleh Jenderal Besar Terauci untuk memberitahu bahwa keputusan pemerintah kaisar Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia yang wilayahnya meliputi seluruh bekas Hindia Belanda.
2)                 Peristiwa rengas dengklok adalah pengamanan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta oleh kalangan pemuda yang bertujuan agar Soekarno dan Hatta tidak terpengaru oleh jepang mengenai pelaksanaan proklamasi kemerdekaan dan agar Soekarno dan Hatta sgera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
3)                 Perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan dilakukan oleh Soekarno dan Hatta ketika mereka sadar bahwa kemerdekaan Indonesia harus segera diproklamasikan dan tanpa adanya ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Jepang.

3.2  Saran
1)   Untuk masyarakat yang tugasnya sebagai penerus bangsa harus memiliki jiwa Nasionalisme yang tinngi untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia karena apabila kita mengenang sejarah perjuangan bangsa Indonesia, perjuangan tersebut dilakukan penuh dengan rintangan demi menuju kemerdekaan.
2)             Untuk pembaca diharapkan setelah membaca makalah ini lebih mencintai tanah air Indonesia dan lebih menghargai makna perjuangan.

Daftar Rujukan
Frederick, William H., Soeri Soeroto. 2005. Pemahaman Sejarah Indonesia Sebelum dan Sesudah Revolusi. Jakarta: Pustaka LP3ES.
Kansils, C.T.S., Julianto.1985. Sejarah Perjuangan Pergerakan Kebangsaan Indonesia. Jakarta: Erlangga..
Notosusanto,Nugroho,dkk.1984.Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka.