Kamis, 25 Oktober 2012

EKPLOITASI INDUSTRI BURUH TAMBANG BATU BARA OMBILIN DI MINANGKABAU TAHUN 1891-1927

sedikit berbagi materi tentang sejarah indonesia baru....semoga bermanfaat...:)


Fenomena dalam DuniaTambang Batu Bara di Minangkabau
Kedatangan Belanda ke wilayah Minangkabau telah membawa berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat. Perubahan yang terjadi itu meliputi berbagai bidang, seperti pendidikan, politik, dan ekonomi. Dalam bidang pendidikan, pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan sistem pendidikan barat. Hal itu ditandai dengan berdirinya Sekolah Raja pada tahun 1873 di Bukittinggi.’ Kehadiran itu merupakan awal persentuhan masyarakat Minangkabau dengan dunia intelektual Barat. Hal yang terpenting dari kehadiran pendidikan Barat itu adalah munculnya ide tentang kemajuan., Ide kemajuan yang datang dari barat kemudian menjadi pusat konflik intelektual tentang bermacam subjek, seperti adat dan agama.
Penguasaan Belanda dalam bidang politik dan ekonomi ber­langsung secara bersamaan di Minangkabau. Dalam bidang po­litik, sejak kekalahan Minangkabau dalam Perang Paderi tahun 1837 praktis Minangkabau berada di bawah kekuasaan pe­merintah kolonial Belanda. Untuk mencapai tujuan politiknya, pemerintah kolonial Belanda mematahkan pengaruh pemimpin Paderi, yang memiliki kemampuan besar untuk mengerahan perlawanan orang Minangkabau terhadap tuntutan Belanda. Setelah kekuasaan Paderi dipatahkan, Belanda pun berhasil menguasai Minangkabau yang meliputi wilayah pantai (Padangnsche Benendenlanden) dan wilayah pedalaman (Padangsche Bovenlanden). Kekuasan itu juga kemudian diikuti penguasaan pemerintah kolonial Belanda dalam bidang ekonomi.
Penemuan penting dari ekspedisi Belanda ke daerah ini adalah batu bara. Ekspedisi itu dipimpin oleh Groot yang menemukan batu bara pertama di Padang Sibusuk, yang terletak 20 km dari Ombilin pada tahun 1858. Ekspedisi yang dirintis oleh Groot kemudian diikuti oleh Greve yang menemukan batu bara yang terdapat di Ombilin Sawahlunto pada tahun 1868.
Berdasarkan kekayaan batu bara yang diperkirakan terdapat di Ombilin itu, pemerintah kemudian berkeinginan menanamkan modalnya. Dalam konteks inilah penemuan batu bara Ombilin beserta masalah buruh tambang batu bara Ombilin Sawahlunto, Sumatra Barat 1891-1927 dijadikan sebagai tema sentral dalam penulisan ini. Penemuan batu bara kemudian membawa perubahan penting dalam tatanan ekonomi penduduk Minangkabau, terutama terbukanya kesempatan bekerja sebagai buruh. Dalam perkembangannya pertambangan batu bara Ombiin tidak hanya menggunakan buruh lokal, tetapi juga mendatangkan buruh dari luar melalui berbagai cara, seperti kontrak dan paksa..
Keberadaan buruh pribumi dapat dibedakan dalam bentuk ikatan, yaitu buruh paksa, buruh kontrak, dan buruh bebas. Buruh paksa (dwangerbeiders) diambil dari orang-orang hukuman di berbagai penjara di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.
Buruh kontrak (contrackoelies) didatangkan dari Penang, Singapura, dan Jawa. Buruh bebas (vrije arbeiders) berasal dari penduduk Minangkabau. Kehidupan ketiga kelompok buruh itulah yang dijadikan sebagai inti dar ipenulisan ini.

Kehidupan buruh tambang batu bara Ombilin antara tahun 1891 sampai tahun 1927, terutama buruh paksa, buruh kontrak, dan buruh bebas. Selama periode itu, akan dicoba dibahas secara seksama beberapa persoalan pokok yang melingkupi kehidupan buruh, seperti rnasalah pengerahan buruh, kehidupan sosial, ekonomi dan sosial politik buruh tambang.
Masalah pengerahan buruh menyangkut pola yang ditempuh oleh pihak perusahaan tambang batu bara Ombilin untuk mendatangkan buruh ke Sawahlunto. Buruh dikerahkan dengan berbagai cara, seperti memanfaatkan or­ang-orang tahanan sebagai buruh paksa, mengerahkan buruh kontrak Cina dari Penang dan Singapura, mendatangkan buruh kontrak dari Jawa, dan menggunakan orang Minangkabau sebagai bunuh bebas. Dari pengerahan buruh seperti itu akan terlihat beragamnya asal-usul buruh yang bekerja pada tambang batu bara Ombilin Sawahlunto.
Setiap tahunnya terjadi arus keluar masuk buruh tambang. Dengan demikian, setiap tahun pula perusahaan tambang batu bara Ombilin mendatangkan buruh dari berbagai tempat. Sebagai contoh adalah pada tahun 1914. Dalam buku tahunan tambang dikemukakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja pada tambang, penusahaan tambang batu bara Ombilin menerima buruh terdiri atas sebanyak 1625 buruh kontrak, dan 1040 orang tenaga kerja paksa. Persoalan yang menarik adalah bagaimana cara-cara yang ditempuh oleh perusahaan tambang batu bara Ombilin untuk mendatangkan Pasokan tenaga buruh ke tambang batu bara Ombilin disuplai melalui berbagai pola. Setiap pola memiliki perbedaan. Perbedaan pola pengerahan buruh akan melahirkan tingkatan. Hal yang akan menarik untuk dikaji adalah sejauh mana perbedaan yang terdapat dan apakah perbedaan-perbedaan itu memicu konflik antarsesama buruh ataupun antara buruh dengan pihak perusahaan.
Gambaran perbedaan kehidupan buruh akan dilihat dari beberapa kelompok buruh. Perbedaan yang mencolok terlihat darl sistern kontrak seperti buruh paksa, buruh kontrak, dan buruh bebas. Akan lebih menarik untuk dikaji jika kita rnembandingkan setiap sistem kontrak itu dengan upah dan jaminan sosial serta masalah hak asasi buruh yang diterima buruh tambang sesuai dengan ikatan kontrak yang dibuat oleh buruh dengan pihak perusahaan.
Masalah upah sering menjadi pemicu keresahan di kalangan buruh. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah masalah itu juga dihadapi oleh buruh tambang batu bara Umbilin. Dalam melihat masalah sosial ekonomi buruh, khususnya masalah upah buruh tambang batu bara Ombilin adalah sejauh mana masalah upah berpengaruh terhadap kehidupan sosial politik buruh. Contoh yang menonjol adalah apakah keterlibatan buruh tambang batu bara Ombilin dalam pemberontakan 1927 disebabkan oleh masalah upah atau faktor-faktor sosial, ekonomi, dan politik lainnya.
Secara ideal, dalam hubungan buruh dengan majikan haruslah terdapat keseimbangan keseimbangan dalam pembagian pendapatan. Menyimak hubungan yang ideal antara buruh dengan majikan, menariklah gagasan yang dikemukakan Hendry Ford, yaitu “semakin banyak upah yang diberikan kepada buruh, semakin banyak yang dapat dibelinya dari Anda, dan merupakan keuntungan besar yang Anda raih.” Buruh juga akan menghargai aturan-aturan ekonomi yang ada karena adanya keuntungan yang diberikan oleh majikan kepada mareka. Hubungan yang ideal antara buruh dengan majikan, menurut Ford, adalah dengan adanya keuntungan yang diperoleh buruh, hal itu semakin baik bagi perusahaan karena loyalitas dan semangat kerjanya semakin tinggi.
Bertitik tolak dari pernyataan tersebut, bagaimana perhatian yang diberikan oleh pihak perusahaan tambang terhadap buruh dapat dikaji berbagai hal lainnya di kalangan buruh. Sebagai contoh adalah bahasan mengenai keterlibatan buruh dalam berbagai gejolak, mogok, keresahan dan pem­berontakan buruh. Dalam konteks ini faktor-faktor yang menyebabkan buruh tambang batu bara Ombilin Sawahlunto telibat dalam peristiwa pemberontakan PKI tahun 1927 di Silungkang menarik untuk dikaji. Dalam peristiwa pemberoutakan PKI di Silungkang itu, banyak buruh tambang batu bara yang terlibat.

      Pengerahan Buruh Tambang Batu Bara di Minangkabau
Sejak berlangsungnya sistem tanam paksa di Minangikabau, pengerahan buruh untuk dipekerjakan pada perkebunan sudah menjadi persoalan besar. Dibandingkan dengan di Jawa misalnya, pasokan buruh pada perkebunan dapat dipenuhi dan penduduk yang berada di sekitar perkebunan maupun dari pemilik tanah yang diwajibkan bekerja sebagai konsekuensi dari kemilikan tanah itu. Sebaliknya, di Minangkabau justru terdapat kesulitan dalam  pengerahan buruh, khususnya tambang batubara, yang disebabkan jarangnya penduduk dan juga penduduk setempat tidak memenuhi persyaratan untuk bekerja sebagai buruh pertambangan, seperti fisik mereka lemah.
Persoalan lainnya adalah minat kerja penduduk. Penduduk Minangkabau tidak memiliki minat yang besar untuk bekerja sebagai buruh. Mereka hanya mau bekerja dalam waktu tertentu saja, seperti masa ketika mereka tidak turun ke sawah. Bagi penduduk Minangkabau, pilihan bekerja sebagai buruh tambang batu bara hanya dijadikan sebagai pekerjaan sambilan saja. Dalam kondisi itu, pihak Perusahaan tambang batu bara tidak dapat  mengerahkan buruh yang berasal dari penduduk di sekitar areal pertambangan batu bara.
Untuk mengatasi kesulitan kebutuhan tenaga kerja, buruh didatangkan dari luar Minangkabau. Hal itu terlihat pada masa sistem tanam paksa ketika buruh dipekerjakan, seperti di perkebunan teh di Kerinci dan perkebunan tembakau di Halaban. Dalam laporan yang ditulis oleh Stibe, ia memperkirakan bahwa buruh yang didatangkan dari luar Minangkabau dan bekerja di perkebunan berjurnlah 3.500 orang.
Persoalan sesungguhnya adalah menyangkut pengerahan  tenaga kerja. Hambatan pengerahan tenaga kerja disebabkan sedikitnya jumlah penduduk yang mendiami Minangkabau.
Untuk mengantisipasi persoalan kebutuhan terhadap buruh yang semakin besar, pengerahan buruh pun ditingkatkan. Langkah yang dilakukan untuk mendapatkan buruh adalah pertama, mendapatkan buruh dari masyarakat yang berada disekitar areal penambangna. Kedua, mendatangkan buruh dari luar daerah itu, ketiga memperkejakan orang hukuman dengan status sebagai buruh paksa.
Pengerahan buruh yang berasal dari penduduk sekitar areal menambangan pada mulanya merupakan alternatif utama yang diinginkan oleh pihak pemerintah. Berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan pemerintah, pengerahan buruh seperti itu amat memungkinkan disebabkan taraf ekonomi masyarakat areal penambangan yang relatif miskin.
Orang Minangkabau yang bekerja sebagai buruh tambang berasal dari daerah lainnya, seperti dari Luhak Limo Puluh Koto dan Luhak Tanah Data. Beberapa nagari yang penduduknya banyak bekerja sebagai buruh tambang adalah dari Nagari Suliki, Taram, dan Piladang dari Luhak Limo Puluh Koto, dan Nagari Koto Tuo, Sutumbuk, Supayang, dan Supatai dari Luhak Tanah Data.
Mereka bekerja sebagai buruh pada tambang batu bara Ombilin jauh dari kampung. Secara umum jarak antara Ombilin dengan daerah tersebut sekitar 50 atau hingga lebih dari 100 km. dengan demikian akan tergambar bahwa mereka sudah dirantau sehingga mereka dapat menentukan kehidupan sendiri tanpa dikontrol oleh kaumnya.
Langkah penting yang diambil oleh pihak perusahaan dalam pengerahan buruh tambang adalah dengan sistem tenaga kerja paksa (dwangarbeiders) dan sistem tenaga kerja kontrak (cointractkoelies). Tenaga kerja paksa dijalankan oleh pihak perusahan dengan memanfaatkan orang-orang nyang menjalani hukuman di berbagia penjara sebagai buruh paksa. Buruh paksa dikerahkan dari berbagai penjara pemerintah di Padang, Bukittinggi, Jawa, Madura, Bali dan Makasar.

      Eksploitasi Buruh Tambang Batu Bara di Minangkabau
Buruh lapangan yang bekerja pada tambang batu bara Ombilin dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Ada kalanya pihak perusahaan membutuhkan buruh lapangan dalam jumlah yang banyak, namun kadang kala juga terjadi pemutusan hubungan kerja. Semua itu sangat tergantung pada permintaan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri maupun yang diekspor.
Dalam perkembangan berikutnya, disamping pengerahan buruh ‘paksa’, pihak pemerintah juga mengerahkan buruh dengan bentuk ikatan lainnya, seperti buruh kontrak dan buruh bebas. Buruh kontrak pertama kali bekerja pada perusahaan tambang batu bara Ombilin pada tahun 1893. Buruh kontrak itu berasal dari buruh kontrak Cina. Buruh kontrak dari jawa mulai bekerja sejak tahun 1902. Pada tahun selanjutnya mereka mendominasi jumlah buruh pada perusahaan tambang. Sejak saat itu, buruh kontraklah yang menjadi tenaga utama untuk menggali batu bara.
Persoalan utama yang dihadapi pihak perusahaan tambang dengan buruh kontrak Cina adalah mereka tidak memperpanjang kontrak. Setelah masa kontrak habis, buruh Cina mencari pekerjaan lain seperti berdagang. Hal itu tidak diinginkan oleh perusahan tambang karena pihak perusahan telah mengeluarkan dana untuk  merekrut mereka.
Sedikitnya jumlah buruh Cina yang meperpanjang kontrak membuat pihak perusahaan tambang batu bara Ombilin mengeluarkan kebijakan tersendiri terhadap buruh Cina. Adapun kebijakan baru yang diambil pihak perusahan adalah tidak dibuatnya kesempatan pengerahan buruh Cina dari Penang, Malaysia. Dengan demikian, buruh Cina yang bekerja pada tambang batu bara Ombilin hanya dalam satu masa kontrak dan kemudian diputuskan. Bahkan sejak tahun 1987, buruh Cina hampir tidak ada lagi yang bekerja pada perusahaan tambang batu bara Ombilin.
Persoalan ini akan berbeda dengan buruh kontrak dari Jawa. Mereka umumnya melanjutkan kontrak kerja dengan pihak perusahaan tambang. Mengamati perkembangan buruh kontrak dari tahun ke tahun. Banyak diantara mereka bekerja sampai anak dan cucu mereka menjadi buruh tambang di perusahaan itu.
Selain buruh paksa dan buruh kontrak, pihak pertambangan juga merekrut buruh yang bekerja secara bebas. Pengertian bebas dalam kontek ini adalah mereka bekerja sebagai buruh harian dan tidak terikat dengan sebuah kontrak bekerja sebagaimana dengan buruh kontrak yang dibahas sebelum ini. Apabila seorang buruh bebas ingin bekerja pada tambang batu bara Ombilin, mereka cukup melapor ke perusahaan dan akan dapat langsung bekerja. Bidang pekerjaan yang dimasuki oleh buruh bebas tidak berbeda dengan buruh-buruh paksa ataupun buruh kontrak, yaitu sebagai tenaga penggali dan pengangkut batu bara dalam lubang penggalian.
Perubahan mencolok dalam komposisi buruh kembali terjadi antara tahun 1914 sampai tahun 1918. Pada tahun itu jumlah buruh paksa lebih banyak daripada buruh bebas dan buruh kontrak. Peningkatan buruh paksa itu berkaitan dengan meningkatnnya jumlah orang hukuman sehingga mereka diperkerjakan pada tambang batu bara Ombilin,. Pada tahun 1914-1918 buruh paksa berkisar 3029 orang sampai 3490 or­ang, sedangkan buruh kontrak 1535 orang sampai 1947 orang dan buruh bebas 1887 orang sampai 2157 orang. Jumlah buruh tertinggi pada tahun-tahun itu dipegang oleh buruh paksa. Buruh bebas juga memperlihatkan kecenderungan meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada periode itu, buruh kontrak menjadi buruh yang paling sedikit bekerja pada tambang batu bara Ombilin.
Pada tahun 1925 dan tahun 1926, terjadi lagi penurunan jumlah buruh bebas. Buruh bebas hanya berjumlah 697 or­ang dan 985 orang. Pada hal, tahun-tahun sebelumnya berjumlah diatas 2000 orang. Perubahan pada buruh bebas ini adalah sebagai pengaruh kondisi politik yang berkembang saat itu. Masyarakat mulai tidak mau bekerja sebagai buruh tambang karena pengaruh partai-partai politik yang berkembang di Sawahlunto. Partai seperti Sarikat Rakjat telah berhasil berpropaganda untuk mempengaruhi buruh, seperti diperlihatkan oleh buruh bebas.
Setelah terjadi pemberontakan 1927, terjadi lagi perubahan jumlah buruh paksa. Pihak perusahaan membuat kebijakan baru, yaitu secara berangsur-angsur jumlah buruh paksa yang bekerja pada tambang batu bara Ombilin dikurangi. Penghapusan buruh paksa terjadi pada tahun 1933.  Sebagai penggantinya, pihak tambang kemudian meningkatkan perekrutan buruh kontrak dari jawa. Sejak itu, dominasi buruh tambang batu bara Ombilin dipegang oleh buruh kontrak.

DAFTAR PUSTAKA
Zubir, Zaiyardan. 2006.Pertemuran Nan Tak Kunjung Usai:Ekploitasi Buruh Tambang Ombilin Oleh Kolonial Belanda 1891-1927.Padang: Andalas University Press.
Harjono Djojodiharjo. 1993. “Pengembangan Teknologi Pemanfaatan Batu Bara Indonesia: Status, Peluang dan Tantangan”, Makalah Seminar. Yogyakarta: Tanpa penerbit.
Http://id.Wikipedia.Org.diakses tgl 29 Oktober 2011, jam 17.00 Wib.
Http://terazaman.BI ogspot.Com. diakses tgl 29 Oktober 2011, jam 17.00 Wib.
Http://www. Ar. ITB. Ac. Id. diakses tgl 29 Oktober 2011, jam 17.00 Wib.

KONSEP PENDIDIKAN ISRAEL dan PERSIA KUNO


1. KONSEPSI PENDIDIKAN DI PERSIA PADA MASA KUNO (500-400 SM)
1.1 Pandangan Orang Persia Terhadap Pendidikan
Lembah Kerman Shah adalah suatu bukti dimasa lampau mengenai keberadaan manusia, yang terjadi sekitar 5000 tahun yang lalu. Manusia tersebut adalah bangsa Persia, bangsa persia itu sendiri merupakan keturunan dari bangsa Arya yang mengembara hingga menetap di daratan Asia Barat. Sikap keagresifannya masih tertinggal pada bangsa Persia, hal tersebut dapat dilihat dari sikapnya yang sering merampas dan mengekspansi daerah-daerah sekitarnya, serta ingin menguasai seluruh dunia.
Sebelum kita berbicara mengenai pendidikan di Persia, ada baiknya kita mengetahui bagaimana stuktur dan kebudayaan masyarakatnya. Masyarakat Persia mengenal adanya strata sosial dikehidupan mereka, meskipun sistem kasta tersebut tidak sekuat di India, akan tetapi sistem kasta tersebut masih terlihat sangat menonjol dikehidupan masyarakat Persia.
 






Melihat struktur masyarakat dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikan yang  diterapakan adalah sistem idealis. Para kaum Aristokrat atau bangsaan diwajibkan mengikuti pendidikan militer serta pendidikan fisik. untuk para kaum Pendeta diberikan pendidikan mengenai keagamaan. Sedangkan untuk kaum pekerja mempelajari mengenai perdagangan, peternakan, perkebunan dan lain sebagainya.
 Gender juga diperhatikan dalam pendidikan para orang-orang Persia, kaum perempuan tidak diperbolehkan mengikuti sekolah formal seperti yang dilakukan lelaki, perempuan hanya diberikan pendidikan mengenai kerumahtanggaan dirumah-rumah mereka. Tidak seperti kaum lelaki yang pendidikannya dapat diikuti di istana-istana maupun di rumah-rumah bangsawan. Namun, pendidikan yang terpenting diawali dengan pendidikan keluarga untuk semua golongan masyarakat. Pendidikan keluarga tersebut dimulai sejak masih bayi sampai dengan umur 7 tahun, untuk anak lelaki mendapatkan pelajaran oleh ibunya tanpa diketahui oleh ayahnya. Terdapat hubungan antara pendidikan keluarga dengan pendidikan yang diselenggarakan oleh negara.
1.2. Tujuan Pendidikan
Orang Persia menganggap bahwa tujuan dari pendidikan adalah pembentukan serdadu yang kuat, dari pada pendidikan budi pekerti dan pendeta. Rasa nasionalis telah membentuk orang Persia untuk selalu memberikan pendidikan fisik dan militer kepada setiap anak laki-lakinya agar mempunyai badan yang kuat dan skill perang sehingga mampu menjaga keamanan Negara, selain itu adanya harapan untuk memiliki hak materi. Itulah wujud dari tujuan pendidikan Persia kuno.
A.3. Jenis-Jenis  Pendidikan
Dalam masyarakat Persia diketahui ada tiga strata. Tingkatan yang paling utama adalah para Bangsawan/Aristokrat, dibawahnya ada Pendeta dan yang paling bawah adalah para kaum pekerja. Masing- masing strata ini memiliki perbedaan dalam pembagia pendidikan.
1.    Aristokrat
Para kaum Aristokrat atau bangsaan diwajibkan mengikuti pendidikan militer serta pendidikan fisik. Yang bertujuan untuk mengembangkan sifat tahan banting, pengorbanan diri dan pengekangan diri. Anak lelaki diajarkan juga mengenai perburuan, mengendarai kuda, berenang. Semua yang diajarkan berdasarkan ketahanan kemampuan yang diperlukan dalam peperangan.
2.    Pendeta/Magi
Sendangkan untuk para kaum Pendeta diberikan pendidikan mengenai keagamaan. Materi kemoralan dan pemahaman tentang keagamaan sangat dipentingkan dalam kegiatan keagamaan, pendidikan moral itu sendiri mengenai kebenaran, kejujuran, keadilan, perasaan terima kasih, dan sebagainya melalui ajaran-ajaran Zoroastrianisme. Kedudukan magi ini juga sangat penting karena para raja dan bangsawan sering mendatang mereka untuk berkonsultasi.
3.      Kaum Pekerja
Pada kaum kelas bawah diberikan sistem pendidikan vocational training. Sistem pendidikannya mempelajari mengenai perdagangan, peternakan, perkebunan dan lain sebagainya.
1.4.  Metode Pendidikan
Metode pendidikan yang dilakukan orang Persia meliputi metode observasi, imitasi, dan partisipasi. Selain itu ada metode magang yang hanya dipergunakan oleh kelas-kelas rendah untuk kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan kaum pekerja.
1.5. Isi Pendidikan
Pendidikan fisik dan kemiliteran, pengembangan pendidikan ini berupa latihan-latihan fisik dan atlentik. Latihan-latihan fisik untuk mengembangkan sifat –sifat seperti tahan menderita, pengorbanan diri dan pengekangan diri. Sedangkan untuk latihan-latihan atlentik untuk mengembangkan kemampuan berlari, menembakkan panah, melembar lembing, mengendarai kuda dan berenang. Semua latihan-latihan dipraktekkan dan diajarkan langsung pada saat pendidikan berlangsung. Selain itu ada pendidikan berupa skill perang seperti berburu, tahan dingin, tahan lapar, pergi jauh, tidur ditempat terbuka, dan puas dengan makanan sederhana.
 Pendidikan moral, pendidikan ini bertujuan untuk mengembangkan sifat-sifat moralitas seperi kebenaran, keadilan, perasaan terimakasih, keberanian, kesabaran, kejujuran, kerajinan dan kesucian. Bukti adanya pengajaran moral beru kesucian ditemukan dalam tulisan-tulisan Zend Avita (kitab suci orang parisi) yang meliputi :
a.    Vendidad, merupakan kumpulan hokum dan cerita-cerita
b.    Visperad merupakan kumpulan do’a-do’a dalam upacara ritual
c.    Yusna, merupakan kumpulan lagu-lagu
Untuk pengembangan isi pendidikan selanjutnya yaitu Pendidikan Magi. Yang dimaksud dengan Magi adalah para pendeta yang memilki sifat bijaksana. Sistem pendidikan ini berbeda dengan pendidikan kemiliteran an maril. Magi memiliki system pendidikan sendiri. Seorang magi harus mampu belajar ilmu astronogi, hokum, kedokteran disamping penguasaan ilmu Zend Avista.  Para raja dan kaum bangsawan biasanya sering mendatangi magi untuk melakukan konsultasi mengenai perihal penting seputar kehidupan raja dan kaum bangsawan itu sendiri.
1.6. lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan yang diterapkan pada masa Persia kuno terbagi menjadi lembaga pendidikan keluarga dan pendidikan Negara. Yang dimaksud pendidikan keluarga adalah pendidikan yang dilakukan orang tua untuk mendidik anaknya pada usia bayi hingga umur 7 tahun. Pendidikan keluarga merupakan pendidikan terpenting untuk semua golongan masyarakat di Persia.pendidikan agama dan moral yang diajarkan ibunya kepada anak laki-laki sedangkan yang perempuan diajarkan tentang pendidikan kerumahtanggaan. Namun setelah umur 7 tahun anak laki-laki tetap memperoleh pendidikan agama dan moral dirumahnya. Sedangkan yang dimaksud dengan lembaga pendidikan Negara adalah pendidikan yang diberikan oleh negara yaitu berupa pendidikan kemiliteran. Pendidikan ini mendapat pengawasan langsung dari Negara, karena dianggap sebagai wujud pengabdian orang Persia terhadap kebesaran dan kejayaan Negara. Pendidikan ini hanya diberikan kepada anak laki-laki setelah usia 7 tahun.
Antara pendidikan keluarga dengan pendidikan Negara memiliki hububgan kooperatif yang saline mempengaruhi satu sama lain. Misalnya, anak laki-laki yang sudah berumur 7 tahun wajib mengikuti pendidika kemiliteran. Sebelum usia 7 tahun anak laki-laki tersebut dalam pendidikan kelurganya telah mendapatkan pendidikan agama dan maril yang diajarkan ibunya di rumah. Isi pendidikan agama dan moril mengajarkan tentang hal-hal kebaikan seperti  kesabaran, ketabahan, kesucian, keterampilan,kejururan dan perasaan terimasih. Pendidikan agama dan moril ini secara tidak langsung akan mempengaruhi perilakunya pada saat mengikuti pendidikan kemiliteran yang dilakukan langsung oleh Negara.. Begitu pula dengan sebaliknya, anak laki-laki yang tidak mendapat pendidikan agama dan moril semasa dia masih dibawah umur 7 tahun akan mempengaruhi perilakunya pula. Meskipun pada akhir tujuan pendidikan adalah menciptakan keamanan, kebesaran dan kejayaan Negara. Dan perlu diketahui pula bahwa pendidikan agama dan filsafat sangat sedikit dipelajari, hanya orang-orang tertentu seperti Magi.
1.7. Organisasi Pendidikan
Pembembangan pendidikan oleh orang Persia tidak menggunakan suatu lembaga yang spesifik, sekalipun pendidikan Negara ( latihan fisik kemiliteran). Untuk pendidikan keluarga jelas dilakukan di rumah masing-masing. Sedangkan untuk pendidikan latihan fisik dan kemiliteran dilakukan di istana-istana atau di rumah-rumah kaum bangsawan.
Usia untuk ketentuan pendidikan adalah dibawah 7 tahun memperoleh pendidikian keluarga sedangkan usia 7 tahun hingga 20 tahun mempeoleh pendidikan dari Negara (laitihan fisik kemiliteran). Pada umunya pendidikan banyak diberika kepada anak laki-laki. Pada usia dibawah 7 tahun, anak laki-laki dan perempuan dididik ibunya dirumah. Anak laki-laki mendapat pendidikan agama dan moril. Sedangakan anak perempuan mendapat pendidikan kerumahtanggaan. Setelah umur 7-15 tahun, anak laki-laki mendapat latihan fisik dan kemiliteran serta kepatuhan pada orang-orang yang lebih tua. Pada usia ini, anak laki-laki dianggap sebagai milik Negara untuk menunjukkan pengabdiannya terhadap Negara. Setelah usia 15 tahun, anak laki-laki menjalani masa pelayanan yang sebenarnya di lapangan untuk melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan keamanana, kebesaran serta kejayaan Negara. Kemudian setelah usia 20 tahun, anak laki-laki tersebut sudah dianggap mencapai kedewasaan penuh dengan segala hak-hak yang dimilikinya.

2. KONSEPSI PENDIDIKAN DI ISRAEL PADA MASA KUNO (500-400 SM)
2.1 pandangan orang Yahudi terhadap pendidikan
Berbicara mengenai Israel tidak lepas dari orang-orang Yahudi, orang Yahudi sendiri memiliki perjalan sejarah yang sangat panjang dan penuh dengan kesulitan dimasa lalu. Dari perjalanan awal mencari tanah kanaan yang sampai berganti-ganti pemimpin perjalanan, hingga terakhir dipimpin oleh nabi Musa. Pada mulanya bangsa yahudi merupakan bangsa pengembara, sampai pada akhirnya menetap dan mendirikan negara sendiri yakni Israel, yang sebelumnya pernah menjadi seorang tawanan Persia dan Mesir, dan di kembalikan ke Palestine dengan masih mendapat pengawasan dari Persia, dan menjadi budak tawanan Mesir serta pada akhirnya dibebaskan oleh Musa 1250 BC, pembuangan ke babilonia 560 BC dan kehancuran oleh Titus 70AD.
Yahudi tak hanya memiliki sejarah yang panjang mengenai perjuangan mereka mencari tempat menetap seperti sekarng ini, akan tetapi juga memiliki sejarah pendidikan yang sangat baik dan banyak bangsa-bangsa lain menganut sistem pendidikan dari bangsa Yahudi diantaranya adalah:

a.       Dasar konsepsi agama monotheisme
Yakni mengenal hanya satu tuhan yakni Yehovah, sebagai landasan pendidikn dan kehidupan yang utama.
b.      Dasar sistem etika
Sistem etika diambil dari hukum sepuluh atau tencommandments, yang mengajarkan mengenai moralitas kehidupan.
c.       Dasar literatur dari bible
Bible atau kitab suci menjadi rujukan yang utama, atau pengarah untuk kehidupan sehari-hari. Jadi, untuk melangsungkan kehidupan masyarakat menggunakan bible sebagai petunjuk arahnya.
Bangsa yahudi tidak mengenal adanya sisterm kasta seperti bangsa-bangsa yang lain.  Akan tetapi menggunakan sistem pendidikan Yahove atau ketuhanan, sistem ketuhanan tersebutlah yang mengontrol pendididkan yang ada pada masyarakat Yahudi, yang bertujuan menjadikan seseorang menjadi individu yang percaya dan patuh terhadap tuhan, menjaga keharmonisan serta menuju negara yang agung. Dari situlah kesadaran berbangsa menjadi sanat kuat dibading dengan Persia, maupun negara yang lain. Konsep penddikan tersebut diberikan Musa kepada bangsa Yahudi bahwa Yahove merupakan Tuhan bangsanya yang akan melindungi mereka apabila mereka patu dan taat terhadap apa yang diperintahkan oleh Yahove.
Dasar pendidikannya bersifat demokratis, karena tak adanya sistem kasta, semua orang dianggap sama rata di mata Tuhan. Jenis dari pendidikanya sendiri menggabungkan antara agama dengan kewarganegaraan. Menurut mereka patriotisme ditunjukan dengan percaya terhadap Yhwe sama dengan cinta terhadap bangsanya, hal tersebut dapat dikatakan sebagai pendidikan moralitas.
Tidak seperti bangsa Persia, pendidikan diberikan berdasarkan strata sosial, dalam pendidikan bangsa Yahudi diberikan sama rata tanpa memandang status sosialnya. Bagi orang yahudi pendidikan sangatlah utama baik bagi seorang lelaki maupun perempuan sekalipun. Seorang ibu bagi bangsa Yahudi menjadi tokoh utama didalam kerumahtanggaan, seorang perempuan dididik segala kerumahtanggaan dan sedikit pendidikan jasmani oleh ibunya. Pembelajaran yang diberikan didalam keluarga pada umumnya mengenai musik, tari dna menyanyi. Dan dalam pendidikan formal diajarkan membaca, menulis, dan berhitung.
2.2. Tujuan pendidikan
Pendidikan bagi orang yahudi bertujuan untuk membuat individu menjadi hamba yang patuh dan penuh percaya kepada Tuhan yang hidup (Yehovah). Pendidikan diarahkan pada kekuasaan Yehovah sendiri, pendidikan  ini nantinya akan memunculkan rasa kesadaran kehidupan bernegara menuju kebesaran dan keagungan sebagai bangsa pilihan. Karena orang yahudi percaya bahwa apabila mereka patuh kepada bangsanya, secara tidak langsung mereka patuh terhadap Yehovah.
2.3. jenis-jenis pendidikan
Untuk menetapkan jenis pendidikan untuk orang – orang yahudi sangatlah sulit, karena antara pendidikan agama dengan agama kewarganegaraan secara praktis menjadi satu. Bagi mereka, agama merupakan kesamaan patriotism terhadap Yehovah. Anggapan mereka setia kepada Yehovah berarti setia pula pada bangsanya. Antara pendidikan agama dan kewarganegaraan bisa dianggap sebagai pendidikan moril sebab semua adat istiadat dan hubungan antara sesama diarahkan untuk kesejahteraan hidup bersama.
Pendidikan pekerjaan dianggap pendidikan paling penting loleh orang – orang yahudi. Setiap ayah  bertugas untuk mengajarkan anak laki -  lakinya untuk berdagang. Kemudian untuk pendidikan kerumahtanggaan orang – orang yahudi mengembangkan suatu kehidupan rumah tanggga yang indah. Hal ini terlihat pada kedudukan ibu yang ditinggi dirumah serta menjadi pembantu ayah untuk mendidik anaknya pada praktek upacara – upacara keagamaan. Disamping itu ibu juga mengajarkan anak – anak perempuan untuk dilatih berbagai pekerjaan rumah tangga. Pendidikan jasmani pada orang yahudi sangat sedikit yang diberikan kepada anak - anak mereka.
Bagi orang yahudi pendidikan ditujukan kepada setiap orang tanpa memandang status sosialnya sehingga pendidikan bersifat demokratis. Pendidikan ditujukan kepada semua orang sebab semua orang sama dimuka yuhan serta  hulum ( datang dari tuhan belaku untuk semua).
2.4. Isi Pendidikan
Awalnya pendidikan yang diajarkan meliputi sejarah orang Yahudi dan hubunganya dengan Yehovah khususnya hokum yang berasal dari musa (Toret dan Talmud) serta bagaimana interpretasinya. Selain itu orang – orang yahudi mengajarkan ilmu lain seperti musik, menari dan menyanyi (khusus menari diberikan anak perempuan). Pada abad ke-2 sebelum masehi orang – orang yahudi mendirikan sekolah – sekolah. Disana anak- anak diajarkan membaca, menulis dan brhitung.
2.5. Lembaga Pendidikan
Pendidikan keluarga pada awalnya merupakan satu – satunya lembaga pendidikan bagi orang Yahudi. Dimana seorang ayah bertindak tidak hanya sebagai pendeta namun bertindak sebagai guru dengan dibantu ibunya pada saat mengajarkan pad anak – anaknya. Setelah orang –orang yahudi mengalami pembuangan ke Babylonia para ahli – ahli alkitab selain bertugas sebagai penafsir hukum serta mengajarkan agama dalam synagogue, mereka meiliki tugas lain untuk menjadi guru di sekolah rakyat yang didirikan sekitar abad ke-2 sebelum masehi. Pendidikan yang diajarka biasanya dikaitkan dengan pengajaran synagogue yang ada di desa tempat sekolah itu berdiri, karena bagi orang Yahudi sekolah dengan synagogue sama penting.
2.6. Metode Pendidikan
Metode yang dilakukan ada dua macam, untuk pendidikan keluarga metode yang digunakan dengan cara lisan dan menghafal. Sedangkan untuk pendidikan formal yang bagia kelas rendah menggunakan metode denagn cara lisan dan menghafal pula sedangka untuk pendidikan tinggi metode yang digunakan menerangkan, diskusi, dan debat baik dengan murid  dengan mudid atau murid dengan gurunya. Hukum badan juga mewarnai metode pendidikan bagi orang Yahudi. Hukum ini dianggap sebagai cara mengontrol dalam proses belajar mengajar.
2.7. Organisasi Pendidikan
1.7.1. Pendidikan Keluarga.
Pada usia 0-7 tahun seorang anak belajar di rumah, dengan ketentuan ayah bertindak sebagai guru dan pendeta dan Ibu mengajarkan anak perempuannya. Menurut artikel Dr. Stephen Carr Leon tentang pengamatannya di negara Yahudi selama 8 tahun, pendidikan dimulai tidak dari sejak bayi tersebut lahir atau pada masa keemasan balita, akan tetapi sejak bayi tesebut masih dalam kandungan. Sejak wanita Israel tersebut menyadari dirinya hamil, maka calon ibu tersebut akan sering bernyanyi dan bermain piano, serta berlatih matematika. Kedengaran sedikit aneh akan tetapi memiliki manfaat dibaliknya, mengapa wanita hamil tersebut harus demikian, alansannya adalah bernyanyi dan bermain piano akan mempengaruhi suasana hati bawaan seorang calon anak didalam rahim, menimbulkan suasana tenang dan nyaman bagi calon ibu itu sendiri. Alasan mengapa harus berlatih dan mengerjakan soal-soal matematika tujuannya untuk mengembangkan kecerdasan otak calon bayi. Hal tersebut dikerjakan sampai bayi tersebut terlahir. Selain itu saat cara makan juga dijaga mengandung pun seorang ibu akan sering memakan ikan laut tanpa kepala, alasan mengapa kepala ikan tersebut harus dibuang adalah didalam kepala ikan mengandung zat kimia yang tidak baik dan dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Beberapa hal tersebut merupakan kebiasan atau kebudayaan ibu-ibu yang sedang mengandung di negara Israel.
1.7.2.      Pendidikan Formal.
Pendidikan formal biasanya diberikan oleh seorang pendeta. Bersekolah dimulai dari umur 6-10 tahun, dimana pada usia tersebut seorang anak diwajibkan pergi kesekolah dan belajar Toret (pentateuch). Pada usia 10-15 tahun anak belajar mengenai Mishna (bagian pertama dari kitab talmud). Pada usia ke 15 tahun, anak mempelajari gemara (bagian kedua dari kitab talmud) dengan suka rela.
Untuk pendidikan Tinggi seorang anak memiliki dua tahap pendidikan:
a.       Schools of prophets (sekolah nabi)
Mempelajari mengenai teologis serta hukum seni musik, syair suci, prinsip kesucian, dan kejujuran.
b.      Houses of introduction
merupakan pendidikan yang dilakukan dirumah para rabbi ternama untuk memdidik para guru guna mempelajari segala bidang diarahkan dengan analisa intesif toret dan Talmud. Selain itu, para guru-guru dilatih untuk bersifat bijaksana, suci, murrah hati, kebenaran. Untuk ilmu astronomi, matematika, ilmu bumi, bahasa asing diberikan pula untuk menghadapi perkembangan zaman.


 DAFTAR PUSTAKA

Maheswara, A. 2010. Rahasia kecerdasan Orang Yahudi. Yogyakarta : Punis Book Publisher.
Mansur, Dahlan, dan M.Said. (1989). Mendidik dari Zaman ke Zaman. Jakarta: PT.Rajawali Press.
M. Ngalim Purwanto. (2002). Ilmu Pendidikan, Teoretis dan Praktis. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Tim Dosen Fip Ikip Malang, 2003. Pengantar dasar-dasar pendidikan. Malang: Usaha Nasional.
Wilds, Elmer Harrison. Tanpa Tahun. Dasar-Dasar Teori Pendidikan Jaman Kuno, Jaman Pertengahan, dan Bangsa Saracean (Arab). Terjemahan oleh Sudarsono Sudirdjo. 1978. Malang : IKIP Malang.
Ismail. 2012. Perbandingan sistem Pendidikan di Negara Republik Islam Iran dan Israel .(www.perbandingansistenpsndidikan), diaskses pada tangga 9 September 2012 pada jam 16: 32).
Khalid, Abdul. 2011. Belajar Dari Orang Yahudi, (www.belajardariorangyagudi-org), diakses pada tanggal 8 September 2012 pada jam 09:18).