Kamis, 25 Oktober 2012

KONSEP PENDIDIKAN ISRAEL dan PERSIA KUNO


1. KONSEPSI PENDIDIKAN DI PERSIA PADA MASA KUNO (500-400 SM)
1.1 Pandangan Orang Persia Terhadap Pendidikan
Lembah Kerman Shah adalah suatu bukti dimasa lampau mengenai keberadaan manusia, yang terjadi sekitar 5000 tahun yang lalu. Manusia tersebut adalah bangsa Persia, bangsa persia itu sendiri merupakan keturunan dari bangsa Arya yang mengembara hingga menetap di daratan Asia Barat. Sikap keagresifannya masih tertinggal pada bangsa Persia, hal tersebut dapat dilihat dari sikapnya yang sering merampas dan mengekspansi daerah-daerah sekitarnya, serta ingin menguasai seluruh dunia.
Sebelum kita berbicara mengenai pendidikan di Persia, ada baiknya kita mengetahui bagaimana stuktur dan kebudayaan masyarakatnya. Masyarakat Persia mengenal adanya strata sosial dikehidupan mereka, meskipun sistem kasta tersebut tidak sekuat di India, akan tetapi sistem kasta tersebut masih terlihat sangat menonjol dikehidupan masyarakat Persia.
 






Melihat struktur masyarakat dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikan yang  diterapakan adalah sistem idealis. Para kaum Aristokrat atau bangsaan diwajibkan mengikuti pendidikan militer serta pendidikan fisik. untuk para kaum Pendeta diberikan pendidikan mengenai keagamaan. Sedangkan untuk kaum pekerja mempelajari mengenai perdagangan, peternakan, perkebunan dan lain sebagainya.
 Gender juga diperhatikan dalam pendidikan para orang-orang Persia, kaum perempuan tidak diperbolehkan mengikuti sekolah formal seperti yang dilakukan lelaki, perempuan hanya diberikan pendidikan mengenai kerumahtanggaan dirumah-rumah mereka. Tidak seperti kaum lelaki yang pendidikannya dapat diikuti di istana-istana maupun di rumah-rumah bangsawan. Namun, pendidikan yang terpenting diawali dengan pendidikan keluarga untuk semua golongan masyarakat. Pendidikan keluarga tersebut dimulai sejak masih bayi sampai dengan umur 7 tahun, untuk anak lelaki mendapatkan pelajaran oleh ibunya tanpa diketahui oleh ayahnya. Terdapat hubungan antara pendidikan keluarga dengan pendidikan yang diselenggarakan oleh negara.
1.2. Tujuan Pendidikan
Orang Persia menganggap bahwa tujuan dari pendidikan adalah pembentukan serdadu yang kuat, dari pada pendidikan budi pekerti dan pendeta. Rasa nasionalis telah membentuk orang Persia untuk selalu memberikan pendidikan fisik dan militer kepada setiap anak laki-lakinya agar mempunyai badan yang kuat dan skill perang sehingga mampu menjaga keamanan Negara, selain itu adanya harapan untuk memiliki hak materi. Itulah wujud dari tujuan pendidikan Persia kuno.
A.3. Jenis-Jenis  Pendidikan
Dalam masyarakat Persia diketahui ada tiga strata. Tingkatan yang paling utama adalah para Bangsawan/Aristokrat, dibawahnya ada Pendeta dan yang paling bawah adalah para kaum pekerja. Masing- masing strata ini memiliki perbedaan dalam pembagia pendidikan.
1.    Aristokrat
Para kaum Aristokrat atau bangsaan diwajibkan mengikuti pendidikan militer serta pendidikan fisik. Yang bertujuan untuk mengembangkan sifat tahan banting, pengorbanan diri dan pengekangan diri. Anak lelaki diajarkan juga mengenai perburuan, mengendarai kuda, berenang. Semua yang diajarkan berdasarkan ketahanan kemampuan yang diperlukan dalam peperangan.
2.    Pendeta/Magi
Sendangkan untuk para kaum Pendeta diberikan pendidikan mengenai keagamaan. Materi kemoralan dan pemahaman tentang keagamaan sangat dipentingkan dalam kegiatan keagamaan, pendidikan moral itu sendiri mengenai kebenaran, kejujuran, keadilan, perasaan terima kasih, dan sebagainya melalui ajaran-ajaran Zoroastrianisme. Kedudukan magi ini juga sangat penting karena para raja dan bangsawan sering mendatang mereka untuk berkonsultasi.
3.      Kaum Pekerja
Pada kaum kelas bawah diberikan sistem pendidikan vocational training. Sistem pendidikannya mempelajari mengenai perdagangan, peternakan, perkebunan dan lain sebagainya.
1.4.  Metode Pendidikan
Metode pendidikan yang dilakukan orang Persia meliputi metode observasi, imitasi, dan partisipasi. Selain itu ada metode magang yang hanya dipergunakan oleh kelas-kelas rendah untuk kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan kaum pekerja.
1.5. Isi Pendidikan
Pendidikan fisik dan kemiliteran, pengembangan pendidikan ini berupa latihan-latihan fisik dan atlentik. Latihan-latihan fisik untuk mengembangkan sifat –sifat seperti tahan menderita, pengorbanan diri dan pengekangan diri. Sedangkan untuk latihan-latihan atlentik untuk mengembangkan kemampuan berlari, menembakkan panah, melembar lembing, mengendarai kuda dan berenang. Semua latihan-latihan dipraktekkan dan diajarkan langsung pada saat pendidikan berlangsung. Selain itu ada pendidikan berupa skill perang seperti berburu, tahan dingin, tahan lapar, pergi jauh, tidur ditempat terbuka, dan puas dengan makanan sederhana.
 Pendidikan moral, pendidikan ini bertujuan untuk mengembangkan sifat-sifat moralitas seperi kebenaran, keadilan, perasaan terimakasih, keberanian, kesabaran, kejujuran, kerajinan dan kesucian. Bukti adanya pengajaran moral beru kesucian ditemukan dalam tulisan-tulisan Zend Avita (kitab suci orang parisi) yang meliputi :
a.    Vendidad, merupakan kumpulan hokum dan cerita-cerita
b.    Visperad merupakan kumpulan do’a-do’a dalam upacara ritual
c.    Yusna, merupakan kumpulan lagu-lagu
Untuk pengembangan isi pendidikan selanjutnya yaitu Pendidikan Magi. Yang dimaksud dengan Magi adalah para pendeta yang memilki sifat bijaksana. Sistem pendidikan ini berbeda dengan pendidikan kemiliteran an maril. Magi memiliki system pendidikan sendiri. Seorang magi harus mampu belajar ilmu astronogi, hokum, kedokteran disamping penguasaan ilmu Zend Avista.  Para raja dan kaum bangsawan biasanya sering mendatangi magi untuk melakukan konsultasi mengenai perihal penting seputar kehidupan raja dan kaum bangsawan itu sendiri.
1.6. lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan yang diterapkan pada masa Persia kuno terbagi menjadi lembaga pendidikan keluarga dan pendidikan Negara. Yang dimaksud pendidikan keluarga adalah pendidikan yang dilakukan orang tua untuk mendidik anaknya pada usia bayi hingga umur 7 tahun. Pendidikan keluarga merupakan pendidikan terpenting untuk semua golongan masyarakat di Persia.pendidikan agama dan moral yang diajarkan ibunya kepada anak laki-laki sedangkan yang perempuan diajarkan tentang pendidikan kerumahtanggaan. Namun setelah umur 7 tahun anak laki-laki tetap memperoleh pendidikan agama dan moral dirumahnya. Sedangkan yang dimaksud dengan lembaga pendidikan Negara adalah pendidikan yang diberikan oleh negara yaitu berupa pendidikan kemiliteran. Pendidikan ini mendapat pengawasan langsung dari Negara, karena dianggap sebagai wujud pengabdian orang Persia terhadap kebesaran dan kejayaan Negara. Pendidikan ini hanya diberikan kepada anak laki-laki setelah usia 7 tahun.
Antara pendidikan keluarga dengan pendidikan Negara memiliki hububgan kooperatif yang saline mempengaruhi satu sama lain. Misalnya, anak laki-laki yang sudah berumur 7 tahun wajib mengikuti pendidika kemiliteran. Sebelum usia 7 tahun anak laki-laki tersebut dalam pendidikan kelurganya telah mendapatkan pendidikan agama dan maril yang diajarkan ibunya di rumah. Isi pendidikan agama dan moril mengajarkan tentang hal-hal kebaikan seperti  kesabaran, ketabahan, kesucian, keterampilan,kejururan dan perasaan terimasih. Pendidikan agama dan moril ini secara tidak langsung akan mempengaruhi perilakunya pada saat mengikuti pendidikan kemiliteran yang dilakukan langsung oleh Negara.. Begitu pula dengan sebaliknya, anak laki-laki yang tidak mendapat pendidikan agama dan moril semasa dia masih dibawah umur 7 tahun akan mempengaruhi perilakunya pula. Meskipun pada akhir tujuan pendidikan adalah menciptakan keamanan, kebesaran dan kejayaan Negara. Dan perlu diketahui pula bahwa pendidikan agama dan filsafat sangat sedikit dipelajari, hanya orang-orang tertentu seperti Magi.
1.7. Organisasi Pendidikan
Pembembangan pendidikan oleh orang Persia tidak menggunakan suatu lembaga yang spesifik, sekalipun pendidikan Negara ( latihan fisik kemiliteran). Untuk pendidikan keluarga jelas dilakukan di rumah masing-masing. Sedangkan untuk pendidikan latihan fisik dan kemiliteran dilakukan di istana-istana atau di rumah-rumah kaum bangsawan.
Usia untuk ketentuan pendidikan adalah dibawah 7 tahun memperoleh pendidikian keluarga sedangkan usia 7 tahun hingga 20 tahun mempeoleh pendidikan dari Negara (laitihan fisik kemiliteran). Pada umunya pendidikan banyak diberika kepada anak laki-laki. Pada usia dibawah 7 tahun, anak laki-laki dan perempuan dididik ibunya dirumah. Anak laki-laki mendapat pendidikan agama dan moril. Sedangakan anak perempuan mendapat pendidikan kerumahtanggaan. Setelah umur 7-15 tahun, anak laki-laki mendapat latihan fisik dan kemiliteran serta kepatuhan pada orang-orang yang lebih tua. Pada usia ini, anak laki-laki dianggap sebagai milik Negara untuk menunjukkan pengabdiannya terhadap Negara. Setelah usia 15 tahun, anak laki-laki menjalani masa pelayanan yang sebenarnya di lapangan untuk melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan keamanana, kebesaran serta kejayaan Negara. Kemudian setelah usia 20 tahun, anak laki-laki tersebut sudah dianggap mencapai kedewasaan penuh dengan segala hak-hak yang dimilikinya.

2. KONSEPSI PENDIDIKAN DI ISRAEL PADA MASA KUNO (500-400 SM)
2.1 pandangan orang Yahudi terhadap pendidikan
Berbicara mengenai Israel tidak lepas dari orang-orang Yahudi, orang Yahudi sendiri memiliki perjalan sejarah yang sangat panjang dan penuh dengan kesulitan dimasa lalu. Dari perjalanan awal mencari tanah kanaan yang sampai berganti-ganti pemimpin perjalanan, hingga terakhir dipimpin oleh nabi Musa. Pada mulanya bangsa yahudi merupakan bangsa pengembara, sampai pada akhirnya menetap dan mendirikan negara sendiri yakni Israel, yang sebelumnya pernah menjadi seorang tawanan Persia dan Mesir, dan di kembalikan ke Palestine dengan masih mendapat pengawasan dari Persia, dan menjadi budak tawanan Mesir serta pada akhirnya dibebaskan oleh Musa 1250 BC, pembuangan ke babilonia 560 BC dan kehancuran oleh Titus 70AD.
Yahudi tak hanya memiliki sejarah yang panjang mengenai perjuangan mereka mencari tempat menetap seperti sekarng ini, akan tetapi juga memiliki sejarah pendidikan yang sangat baik dan banyak bangsa-bangsa lain menganut sistem pendidikan dari bangsa Yahudi diantaranya adalah:

a.       Dasar konsepsi agama monotheisme
Yakni mengenal hanya satu tuhan yakni Yehovah, sebagai landasan pendidikn dan kehidupan yang utama.
b.      Dasar sistem etika
Sistem etika diambil dari hukum sepuluh atau tencommandments, yang mengajarkan mengenai moralitas kehidupan.
c.       Dasar literatur dari bible
Bible atau kitab suci menjadi rujukan yang utama, atau pengarah untuk kehidupan sehari-hari. Jadi, untuk melangsungkan kehidupan masyarakat menggunakan bible sebagai petunjuk arahnya.
Bangsa yahudi tidak mengenal adanya sisterm kasta seperti bangsa-bangsa yang lain.  Akan tetapi menggunakan sistem pendidikan Yahove atau ketuhanan, sistem ketuhanan tersebutlah yang mengontrol pendididkan yang ada pada masyarakat Yahudi, yang bertujuan menjadikan seseorang menjadi individu yang percaya dan patuh terhadap tuhan, menjaga keharmonisan serta menuju negara yang agung. Dari situlah kesadaran berbangsa menjadi sanat kuat dibading dengan Persia, maupun negara yang lain. Konsep penddikan tersebut diberikan Musa kepada bangsa Yahudi bahwa Yahove merupakan Tuhan bangsanya yang akan melindungi mereka apabila mereka patu dan taat terhadap apa yang diperintahkan oleh Yahove.
Dasar pendidikannya bersifat demokratis, karena tak adanya sistem kasta, semua orang dianggap sama rata di mata Tuhan. Jenis dari pendidikanya sendiri menggabungkan antara agama dengan kewarganegaraan. Menurut mereka patriotisme ditunjukan dengan percaya terhadap Yhwe sama dengan cinta terhadap bangsanya, hal tersebut dapat dikatakan sebagai pendidikan moralitas.
Tidak seperti bangsa Persia, pendidikan diberikan berdasarkan strata sosial, dalam pendidikan bangsa Yahudi diberikan sama rata tanpa memandang status sosialnya. Bagi orang yahudi pendidikan sangatlah utama baik bagi seorang lelaki maupun perempuan sekalipun. Seorang ibu bagi bangsa Yahudi menjadi tokoh utama didalam kerumahtanggaan, seorang perempuan dididik segala kerumahtanggaan dan sedikit pendidikan jasmani oleh ibunya. Pembelajaran yang diberikan didalam keluarga pada umumnya mengenai musik, tari dna menyanyi. Dan dalam pendidikan formal diajarkan membaca, menulis, dan berhitung.
2.2. Tujuan pendidikan
Pendidikan bagi orang yahudi bertujuan untuk membuat individu menjadi hamba yang patuh dan penuh percaya kepada Tuhan yang hidup (Yehovah). Pendidikan diarahkan pada kekuasaan Yehovah sendiri, pendidikan  ini nantinya akan memunculkan rasa kesadaran kehidupan bernegara menuju kebesaran dan keagungan sebagai bangsa pilihan. Karena orang yahudi percaya bahwa apabila mereka patuh kepada bangsanya, secara tidak langsung mereka patuh terhadap Yehovah.
2.3. jenis-jenis pendidikan
Untuk menetapkan jenis pendidikan untuk orang – orang yahudi sangatlah sulit, karena antara pendidikan agama dengan agama kewarganegaraan secara praktis menjadi satu. Bagi mereka, agama merupakan kesamaan patriotism terhadap Yehovah. Anggapan mereka setia kepada Yehovah berarti setia pula pada bangsanya. Antara pendidikan agama dan kewarganegaraan bisa dianggap sebagai pendidikan moril sebab semua adat istiadat dan hubungan antara sesama diarahkan untuk kesejahteraan hidup bersama.
Pendidikan pekerjaan dianggap pendidikan paling penting loleh orang – orang yahudi. Setiap ayah  bertugas untuk mengajarkan anak laki -  lakinya untuk berdagang. Kemudian untuk pendidikan kerumahtanggaan orang – orang yahudi mengembangkan suatu kehidupan rumah tanggga yang indah. Hal ini terlihat pada kedudukan ibu yang ditinggi dirumah serta menjadi pembantu ayah untuk mendidik anaknya pada praktek upacara – upacara keagamaan. Disamping itu ibu juga mengajarkan anak – anak perempuan untuk dilatih berbagai pekerjaan rumah tangga. Pendidikan jasmani pada orang yahudi sangat sedikit yang diberikan kepada anak - anak mereka.
Bagi orang yahudi pendidikan ditujukan kepada setiap orang tanpa memandang status sosialnya sehingga pendidikan bersifat demokratis. Pendidikan ditujukan kepada semua orang sebab semua orang sama dimuka yuhan serta  hulum ( datang dari tuhan belaku untuk semua).
2.4. Isi Pendidikan
Awalnya pendidikan yang diajarkan meliputi sejarah orang Yahudi dan hubunganya dengan Yehovah khususnya hokum yang berasal dari musa (Toret dan Talmud) serta bagaimana interpretasinya. Selain itu orang – orang yahudi mengajarkan ilmu lain seperti musik, menari dan menyanyi (khusus menari diberikan anak perempuan). Pada abad ke-2 sebelum masehi orang – orang yahudi mendirikan sekolah – sekolah. Disana anak- anak diajarkan membaca, menulis dan brhitung.
2.5. Lembaga Pendidikan
Pendidikan keluarga pada awalnya merupakan satu – satunya lembaga pendidikan bagi orang Yahudi. Dimana seorang ayah bertindak tidak hanya sebagai pendeta namun bertindak sebagai guru dengan dibantu ibunya pada saat mengajarkan pad anak – anaknya. Setelah orang –orang yahudi mengalami pembuangan ke Babylonia para ahli – ahli alkitab selain bertugas sebagai penafsir hukum serta mengajarkan agama dalam synagogue, mereka meiliki tugas lain untuk menjadi guru di sekolah rakyat yang didirikan sekitar abad ke-2 sebelum masehi. Pendidikan yang diajarka biasanya dikaitkan dengan pengajaran synagogue yang ada di desa tempat sekolah itu berdiri, karena bagi orang Yahudi sekolah dengan synagogue sama penting.
2.6. Metode Pendidikan
Metode yang dilakukan ada dua macam, untuk pendidikan keluarga metode yang digunakan dengan cara lisan dan menghafal. Sedangkan untuk pendidikan formal yang bagia kelas rendah menggunakan metode denagn cara lisan dan menghafal pula sedangka untuk pendidikan tinggi metode yang digunakan menerangkan, diskusi, dan debat baik dengan murid  dengan mudid atau murid dengan gurunya. Hukum badan juga mewarnai metode pendidikan bagi orang Yahudi. Hukum ini dianggap sebagai cara mengontrol dalam proses belajar mengajar.
2.7. Organisasi Pendidikan
1.7.1. Pendidikan Keluarga.
Pada usia 0-7 tahun seorang anak belajar di rumah, dengan ketentuan ayah bertindak sebagai guru dan pendeta dan Ibu mengajarkan anak perempuannya. Menurut artikel Dr. Stephen Carr Leon tentang pengamatannya di negara Yahudi selama 8 tahun, pendidikan dimulai tidak dari sejak bayi tersebut lahir atau pada masa keemasan balita, akan tetapi sejak bayi tesebut masih dalam kandungan. Sejak wanita Israel tersebut menyadari dirinya hamil, maka calon ibu tersebut akan sering bernyanyi dan bermain piano, serta berlatih matematika. Kedengaran sedikit aneh akan tetapi memiliki manfaat dibaliknya, mengapa wanita hamil tersebut harus demikian, alansannya adalah bernyanyi dan bermain piano akan mempengaruhi suasana hati bawaan seorang calon anak didalam rahim, menimbulkan suasana tenang dan nyaman bagi calon ibu itu sendiri. Alasan mengapa harus berlatih dan mengerjakan soal-soal matematika tujuannya untuk mengembangkan kecerdasan otak calon bayi. Hal tersebut dikerjakan sampai bayi tersebut terlahir. Selain itu saat cara makan juga dijaga mengandung pun seorang ibu akan sering memakan ikan laut tanpa kepala, alasan mengapa kepala ikan tersebut harus dibuang adalah didalam kepala ikan mengandung zat kimia yang tidak baik dan dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Beberapa hal tersebut merupakan kebiasan atau kebudayaan ibu-ibu yang sedang mengandung di negara Israel.
1.7.2.      Pendidikan Formal.
Pendidikan formal biasanya diberikan oleh seorang pendeta. Bersekolah dimulai dari umur 6-10 tahun, dimana pada usia tersebut seorang anak diwajibkan pergi kesekolah dan belajar Toret (pentateuch). Pada usia 10-15 tahun anak belajar mengenai Mishna (bagian pertama dari kitab talmud). Pada usia ke 15 tahun, anak mempelajari gemara (bagian kedua dari kitab talmud) dengan suka rela.
Untuk pendidikan Tinggi seorang anak memiliki dua tahap pendidikan:
a.       Schools of prophets (sekolah nabi)
Mempelajari mengenai teologis serta hukum seni musik, syair suci, prinsip kesucian, dan kejujuran.
b.      Houses of introduction
merupakan pendidikan yang dilakukan dirumah para rabbi ternama untuk memdidik para guru guna mempelajari segala bidang diarahkan dengan analisa intesif toret dan Talmud. Selain itu, para guru-guru dilatih untuk bersifat bijaksana, suci, murrah hati, kebenaran. Untuk ilmu astronomi, matematika, ilmu bumi, bahasa asing diberikan pula untuk menghadapi perkembangan zaman.


 DAFTAR PUSTAKA

Maheswara, A. 2010. Rahasia kecerdasan Orang Yahudi. Yogyakarta : Punis Book Publisher.
Mansur, Dahlan, dan M.Said. (1989). Mendidik dari Zaman ke Zaman. Jakarta: PT.Rajawali Press.
M. Ngalim Purwanto. (2002). Ilmu Pendidikan, Teoretis dan Praktis. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Tim Dosen Fip Ikip Malang, 2003. Pengantar dasar-dasar pendidikan. Malang: Usaha Nasional.
Wilds, Elmer Harrison. Tanpa Tahun. Dasar-Dasar Teori Pendidikan Jaman Kuno, Jaman Pertengahan, dan Bangsa Saracean (Arab). Terjemahan oleh Sudarsono Sudirdjo. 1978. Malang : IKIP Malang.
Ismail. 2012. Perbandingan sistem Pendidikan di Negara Republik Islam Iran dan Israel .(www.perbandingansistenpsndidikan), diaskses pada tangga 9 September 2012 pada jam 16: 32).
Khalid, Abdul. 2011. Belajar Dari Orang Yahudi, (www.belajardariorangyagudi-org), diakses pada tanggal 8 September 2012 pada jam 09:18).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar